Home » » Bedah Rumah Versi SBK

Bedah Rumah Versi SBK

Peduli tak perlu banyak basa-basi. Simak kisah sekelompok orang ini. Simpel, unik dan menerbitkan inspirasi

Pagi itu embun masih enggan turun dari rerumputan dan mendung menghalangi sang matahari, suasana yang membuat setiap orang enggan menanggalkan selimut-selimut mereka. Hari Minggu apalagi. Tapi maaf, alasan itu tidak berlaku pada sekelompok orang yang sedari pagi berkumpul di halaman parkir RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ini.

Apa yang akan dilakukan orang-orang di halaman parkir rumah sakit terbesar di Tanah Banyumas ini. Dari pakaian mereka yang tak berseragam, jelas mereka tidak sedang bekerja. Siapa mereka? Inilah SBK Motor Community, demikian mereka menyebut dirinya. Anehnya SBK bukanlah kependekan dari apapun. Hanya SBK, cukup disebut begitu dan rombongan ini tengah bersiap untuk konvoi sepeda motor menyambangi sebuah desa kecil di wilayah bagian barat kabupaten ini.


Nama desa itu Sudimara. Sebuah desa di Kecamatan Cilongok dengan mayoritas penduduk mengadu nasib menjadi penderes nira kelapa. Kenapa mereka datang ke kampung terpencil ini? Itu karena kampung ini berbeda dengan kampung-kampung lainnya. Inilah kampung yang dalam catatan pemerintahan desa setempat terdapat 123 rumah tidak layak huni. Dalam 3 tahun terakhir, sejak ada program membangun rumah layak huni dari pemerintah, baru 6 rumah yang terbangun. Bisa dibayangkan, berapa banyak sisa rumah yang masih harus dilayakkan.

Salah satu rumah, maaf! itu lebih tepat disebut gubug, adalah milik Arjo Jengi, seorang lanjut usia di Dukuh Martelu, salahsatu bagian Sudimara. Berukuran sekitar 4 X 8 meter, bangunan itu ditopang beberapa kayu tua dengan dinding gedek yang telah bertahun-tahun tidak diganti. Dinding itu tidak hanya lapuk dan bolong melainkan hancur sebagian besarnya. Sesungguhnya gedek itu tidak bisa lagi disebut dinding karena lebih banyak yang hancur dan terbuka daripada menutupinya. Siapapun akan mengira ini adalah bekas rumah yang telah ditinggal penghuninya bertahun-tahun lamanya.

Dapurnya, itu bukan dapur, melainkan sebuah sisi dari rumah yang hanya terdapat perapian, kayu bakar berserakan dan sisanya abu dimana-mana. Tak ada pintu dan tanpa sengaja menjadi mirip dapur terbuka. Angin malam yang jahat bebas berhembus di gubuh ini, menerpa tubuh ringkih Arjo yang tinggal sendirian.
Selain telah hancur sebagian, rumah ini juga tak berlistrik. Seorang diri, setiap malam Arjo hanya ditemani teplok kecil dan suara binatang-binatang. Sudah terpencil, gubuk ini juga tak bisa disambangi dengan kendaraan jenis apapun, termasuk sepeda motor. Jalan setapak yang kecil dan menukik membuat tak seorangpun tertarik bertamu ke sana. Selain miskin, sunyi adalah satu-satunya teman abadi Si Arjo Jengi.
Meski kesepian dan renta, Arjo tak kenal putus asa. Suaranya masih terdengar lantang tiap berbicara. Hanya saja tubuhnya yang termakan usia sudah tak sanggup mendukung semangatnya yang berkobar itu. Matanya sudah terlalu rabun, untuk melihat lawan bicaranya, si kakek harus membungkuk dan mendekatkan wajahnya sedekat mungkin.

Semula Arjo Jengi menempati rumah tersebut dengan istri tercinta. Mereka menikah tahun 1962 dan tidak dikaruniai anak. Untuk mengatasi sepi, seorang bocah mereka mengadopsi. Sekarang anak angkat Arjo Jengi sudah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri. Istrinya, sebulan lalu menghadap Illahi, melengkapi dunia Arjo yang sunyi.

Kesendirian membuat Arjo harus melakukan segala keperluannya sendiri. Dia mengambil air dari sumur yang lebih mirip tanah berlubang yang tak sengaja berisi air karena hujan. Sumur itu ada di sekotak tanah yang digali kurang dari dua meter. Saking dangkalnya, jika kita melongok dari atas, tanah dasar dari sumur itu akan terlihat. Tapi itulah sumber air utama bagi Arjo Jengi untuk mandi, memasak dan berwudhu.
Berharap anak angkatnya membantu sang ayah, itu tak mungkin. Bukan lantaran tidak tahu balas budi, tetapi karena kondisi sang anak mereka yang juga remuk digilas miskin papa. Arjo Jengi memahami situasi itu dan tak pernah mempermasalahkannya. Arjo bahkan tidak mengeluh sama sekali.

Dibelakang rumahnya, berdiri bangunan sederhana, kecil berpagar kayu. Itulah mushola mungil seorang Arjo Jengi, tempatnya sholat dan berzikir jika ‘lingsir wengi’ tiba. Rupanya doa Arjo Jengi didengar oleh-Nya. Pagi 8 Januari 2012 lalu, rumah Arjo Jengi yang sunyi tiba-tiba berubah. Mendadak, ada hiruk-pikuk yang luar biasa disana. Inilah mereka, para awak SBK Motor Community. Dikomandoi Rismanto, SKM, rombongan ini menyambangi gubug terpencil Si Arjo Jengi. Mereka datang bukan untuk wisata, bukan pula untuk mendengar kisah derita seorang lansia di pelosok desa. Tetapi mereka datang untuk beraksi, membantu meringankan beban seorang Arjo Jengi.

Sekitar 20 anggota SBK yang ikut tour hari itu menyingsingkan lengan bajunya. Mereka mengusung sendiri kayu-kayu dan segala material yang dibutuhkan untuk membuat gubug ini agar layak disebut rumah. Tanpa basa-basi, SBK melakukannya. SBK telah merencanakan tour ke-6 mereka ini dengan matang. Wujud simpati terhadap Arjo Jengi digalangkan selama sebulan. Bermula dari berita di koran lokal tentang nasib Arjo Jengi, Rismanto selaku koordinator SBK berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu. Satu-dua orang dihubungi dan diajak berpartisipasi. Dalam tiga hari, berhasil terkumpul dana sebesar Rp. 4 juta. Merasa optimis bisa membantu sepenuhnya, dimulailah penghitungan rehab total rumah Arjo Jengi. Setelah nominal ketemu, SBK segera survey ke lokasi.

Satu dua kali survey, berdiskusi dengan pemerintah desa, rencana berkembang di luar dugaan. Inisiatif SBK ternyata merangsang berbagai pihak untuk turut membantu. Koramil Cilongok menyatakan diri siap menyingsingkan lengan baju. Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) Kabupaten Banyumas juga tak mau ketinggalan, mereka siap berperan meringankan beban warga Sudimara yang kurang mampu. Uniknya, warga Sudimara pun juga telah menggalang dana untuk berpartisipasi. Hitung punya hitung, bukan hanya rumah Arjo Jengi saja yang bisa direhab, tetapi ada beberapa rumah lain yang ternyata juga bisa dibangun hari itu. Akhirnya, total yang bisa direhab selain rumah Arjo adalah tujuh rumah lainnya.

Keterbatasan waktu dan tenaga, tujuh rumah lain dibantu secara simbolis dengan penyerahan uang untuk biaya perbaikan rumah. Perbaikan secara langsung hanya dilakukan pada rumah Arjo Jengi dengan bergotong royong antara warga sekitar, personel Koramil, dan anggota SBK. Meski diantara mereka tidak saling mengenal secara pribadi, tapi mereka bahu-membahu dengan satu semangat: peduli.
Riuh rendah sendau-gurau dan suasana desa yang hijau, membuat pekerjaan yang sesungguhnya berat itu bak kegiatan ringan saja. Tak ada rasa lelah, melainkan gembira. Suasana tambah seru begitu cimplung kelapa muda, ubi rebus, dan teh tawar berderet-deret menjamu para pekerja. Kebersamaan dalam semangat peduli dan penuh canda, kegembiraan membantu sesama dan suasana kampung yang khas dan ramah pada siapa saja, membuat kegiatan ini menyenangkan belaka.

Hasilnya, dalam hitungan jam, rumah Arjo Jengi pun berdiri. Rumah ini tak lagi gubug di atas tanah, melainkan sudah di atas pondasi. Semua kerangka yang lapuk terganti kayu baru, asbes dipilih menjadi atapnya. Bahkan pagar bambu-pun menjadi baru. Tiba-tiba Sang Kepala Desa Wahyono berteriak riang, makan siang telah siap. Rupanya rombongan ibu tak mau ketinggalan momen indah ini. Tanpa komando mereka menyiapkan deretan menu khas Sudimara. Setelah istirahat sebentar, anggota SBK berpamitan pada warga Sudimara selaku tuan rumah. Meski lelah menghinggapi sekujur tubuh, tetapi semangat mereka tambah meraksasa. Sesuai rencana, mereka lalu meluncur ke Dream Land, sebuah tempat wisata air di Desa Pancasan, Ajibarang.

Ini adalah hal yang paling ditunggu gerombolan anak-anak yang turut kegiatan ini. Setelah sekian jam melihat ayah mereka alih profesi menjadi tukang kayu, giliran mereka menunjukkan aksi. Dalam sekejab, SBK menunjukkan kekuatan komunitasnya sebagai sebuah keluarga besar yang akrab dalam banyak hal dan selalu ramai-ramai.

Para anggota SBK sesungguhnya tak hanya beramai-ramai membangun hobi, melainkan juga mengajarkan sesuatu pada anak-anak mereka tanpa perlu banyak berkata-kata. Mereka menunjukkan bahwa peduli dan memikirkan orang lain itu sangat penting dan bisa dilakukan tanpa harus meniadakan kesenangan pribadi. Pelajaran hidup luar biasa yang coba ditanamkan pada anak-anak sejak dini.

Ini yang perlu dicatat, komunitas motor yang terbentuk Oktober 2010 ini tergolong unik. Jika komunitas yang lain bersatu karena merek motor yang sama, SBK tidak sama sekali. Merek bukan persoalan bagi mereka. Siapapun boleh masuk komunitas tanpa perlu pusing urusan merek. Tidak pernah dipersoalkan pula motor anggota buatan tahun berapa apalagi buatan negara mana. Kedua, motto yang dipakainya juga agak tidak lazim. “Membangun jalan surga dengan kegembiraan” begitu kalimatnya. Artinya, dalam setiap kegiatan mereka, misi sosial menjadi hal yang utama. Inilah SBK Motor Community dan inilah spirit yang terus dikampanyekan oleh mereka. Ngrung..ngrrung...grung..!*

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template