Home » , » Menata Ulang "Pemahaman dan Pemaknaan" Koperasi

Menata Ulang "Pemahaman dan Pemaknaan" Koperasi

Oleh: Arsad Dalimunte

A. Pembuka

Selaku organisasi Dunia , Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan resolusi dimana Tahun 2012 di tetapkan sebagai tahun koperasi dunia (International Cooperative Year) dengan mengambil thema : coopertaive’s entreprise build better world (perusahaan koperasi membangun dunia lebih baik).

Penetapan dan pemilihan tema ini di inspirasi oleh realiatas koperasi di berbagai belahan dunia dimana eksistensinya terbukti berimplikasi luas pada peningkatan kesejahteraan, keadilan ekonomi, perdamaian dan lain sebagainya. Artinya, fakta kebaikan-kebaikan koperasi dalam tingkatan praktek menjadi bukti tak terbantahkan dan sekaligus mengisnpirasi pada satu kesimpulan bahwa perusahaan koperasi adalah media strategis untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.


Hal ini tak lepas dari keberhasilan koperasi mem-personifikasi-kan diri sebagai perusahaan yang memiliki keunikan sekaligus sumber keunggulan yang membawanya pada hal-hal bernuansa kebijakan hidup anggotanya. Kebersamaan, kegotongroyongan, kesetiakawanan, transparansi, demokrasi, saling tolong menolog, yang merupakan nilai-nilai yang diyakini dan senantiasa di junjung tinggi telah berpengaruh besar dalam mewarnai dan menentukan arah kebijakan pengembangan dan keseharian koperasi. Sebagaimana muasal kelahirannya, koperasi telah menjelma menjadi alat perjuangan membentuk kesejahteraan melalui pemberdayaan segenap unsur organisasi (baca: orang-orang) yang keberadaannya setara (equal) satu sama lain dan tidak membedakan latar belakang, gender, agama, ras dan bahkan status sosial. Posisi angggota sebagai obyek dan sekaligus subyek pembangunan koperasi telah mendorong lahirnya “aksi kolektif” yang berimplikasi luas bagi peningkatan kualitas hidup segenap unsur organisasi dan bahkan masyarakat sekitar.

Kalau kemudian keberadaan dan eksistensi koperasi di negeri ini belum maksimal, maka hal tersebut bukan dikarenakan kesalahan konsepsi nya, tetapi dikarenakan belum terbangunnya keyakinan cukup dan formula efektif dalam mengoperasionalkan koperasi. Ironisnya, spirit kebersamaan dan kegotongroyongan yang selalu diusung oleh koperasi merupakan ciri budaya asli bangsa Indonesia, sehingga seharusnya peluang koperasi tumbuh dan berkembang di negeri ini lebih terbuka .


B. Ketika Koperasi dipandang sebagai perusahaan pencetak keuntungan

Bukti empiris menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat melihat koperasi sebagai rancang bangun perusahaan yang berorientasi pada pertumbuhan laba (profit oriented). Cara pandang semacam ini juga terjadi pada sebagian besar pegiat koperasi (baca: anggota, pengurus,manajemen dan pengawas ) di negeri ini. Tanpa disadari, pemahaman ini pun telah menjebakkan koperasi pada perburuan laba yang dalam pencapaiannya menggunakan cara-cara layaknya sebuah badan usaha lainnya. Anggota yang merupakan pemilik sah koperasi jarang di libatkan dalam penentuan arah pengembangan koperasi dan bahkan anggota telah diposisikan sebagai pangsa pasar layaknya non anggota. Nilai beda pelayanan terhadap anggota dan non anggota hampir tak tampak. Sebagian Koperasi telah terjebak pada obsesi membangun ke-raksasa-an perusahaan dan lalai apakah anggota bahagia atau tidak dengan segala aktivitas yang dijalankan koperasi tersebut. Elit organisasi (baca: pengurus dan pengawas) terlalu dominan dan memposisikan anggota sebagai kelompok passive dan tidak di edukasi untuk mengerti apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi. Akibatnya, sulit mendapati koperasi mewujud sebagai aktivitas kolektif dimana setiap unsur organisasi mengambil peran proporsional secara sadar, karena kepedulian dan tanggungjawab yang tinggi terhadap kemajuan perusahaan yang mereka miliki bersama-sama. Dalam kondisi ini, relevansi pertumbuhan dan perkembangan koperasi dengan pertumbuhan kesejahteraan anggota berada dalam tanya besar.


C. Koperasi Hanya Mengenal Keberhasilan dan Kegagalan Kolektif

Sebagai organisasi berbasis orang, aktivitas koperasi selayaknya adalah refresentasi (mewakili) dari kepentingan mayoritas anggotanya. Untuk itu, penentuan arah dan tujuan pembangunan koperasi seharusnya diperoleh dari proses duduk bersama segenap unsur organisasi. Demikian halnya dalam tahapan pencapaian tujuan, seharusnya dilakukan secara bersama-sama lewat distribusi peran dan partisipasi proporsional masing-masing unsur organisasi. Dengan demikian, apapun hasil akhir dari perjalanan dan perjuangan sebuah koperasi sesunggunya adalah karya kolektif dan sekaligus indikator obyektif keterbangunan kualitas kebersamaan. Dalam proses yang demikian, maka RAT (Rapat Anggota Tahunan) akan menjadi momen strategis melakukan “auto koreksi berjama’ah “ dan sekaligus merumuskan mimpi bersama berikutnya.


D. Edukasi sebagai ruh koperasi

Dalam bahasa romantisme, koperasi bisa disefenisikan sebagai “hidup bersama” yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang mempunyai latar belakang berbeda dan masing-masing memiliki tujuan (motif) bergabung dalam koperasi. Oleh karena itu, keberagaman potensi, gagasan dan bakat yang melekat pada setap orang, disatu sisi adalah potensi luar biasa bagi pertumbuhan dan perkembangan koperasi, tetapi disisi lain hal ini bisa menjadi bumerang atau blunder ketika tidak dikelola dengan tepat.

Oleh karena itu, sebelum seseorang bergabung dalam sebuah koperasi, idealnya terlebih dahulu diberikan pendidikan tentang apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi. Disamping itu, kepada calon anggota juga harus disampaikan defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Dengan demikian, ketika pada akhirnya seseorang menetapkan diri untuk bergabung, hal itu semata-mata didasarkan pada pemahaman yang benar dan keyakinan yang tinggi bahwa koperasi adalah media tepat untuk memperjuangkan aspirasi dan memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya- nya.

Jika tidak, maka koperasi akan dihuni oleh orang-orang yang memiliki persepsi dan ekspektasi yang mungkin berbeda satu sama lainnya. Ketika hal ini terjadi, maka koperasi akan berjalan diatas kerapuhan pondasi dan bahkan berpotensi terjebak dalam konflik kepentingan yang tak pernah berkesudahan.


E. Penyatuan Kepentingan

Setiap orang yang bergabung ke dalam koperasi pasti memiliki motif kepentingan. Dan sangat terbuka kemungkinan satu sama lain berbeda. Oleh karena itu, koperasi harus mendeteksi masing-masing kepentingan dan melakukan langkah penyatuan yang berujung pada tersusunnya “kepentingan bersama” yang merupakan refresentasi (perwakilan) kepentingan mayoritas anggota. Selanjutnya, “kepentingan bersama” ini menjadi dasar lahirnya ragam aktivitas yang diperjuangkan segenap unsur organisasi melalui distribusi peran proporsional. Dengan demikian, ketika koperasi memasuki tahap evaluasi pencapaian, maka setiap orang akan mempersepsikan dari sudut pandang yang relevan.

Hal ini perlu dilakukan, sehingga indikator-indikator penilaian keberhasilan atau ke belum-berhasilan tidak menjadi liar tak berarah. Tidak di pungkiri, terkadang seseorang menjadi tidak terkendali hanya karena kepentingan sempitnya tidak terakomodir. Namun demikian, ketika hal itu terjadi di tengah populasi mayoritas koperasi yang faham dan mengerti tujuan koperasi, maka akan terbentuk pola penyelesaian yang lebih bijak karena penyelesaiannya berlandaskan semangat kebersamaan.


F. Pemilihan Aktivitas Koperasi

Koperasi lahir dari, untuk dan oleh anggota. Artinya koperasi berjalan untuk kebahagiaan anggotanya. Oleh karena itu, apapun aktivitas yang dijalankan koperasi haruslah merujuk pada hal-hal yang memperbesar peluang penigkatan kebahagiaan anggotanya dalam arti luas. Pada titik ini, koperasi yang lahir untuk kesejahteraan anggotanya harus melakukan perumusan tujuan dan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada ketercapaian tujuan tersebut.

Sebagai pengingat, kesejahteraan anggota sebagai tujuan dalam koperasi tidaklah terbatas pada persoalan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan sosial dan budaya. Keterpenuhan ke-3 (tiga) aspek ini akan memungkinkan koperasi menjadi organisasi yang mampu meningkatkan kualitas hidup anggotanya. Disinilah letak kemuliaan dan juga nilai beda koperasi dibanding badan usaha lainnya. Keseharian perusahaan koperasi selalu lekat dengan nuansa edukasi dan nilai-nilai yang memotivasi semua orang untuk ikut didalamnya mengembangkan partisipasi. Itu pula sebabnya penggunaan istilah SHU (Sisa Hasil Usaha) bukanlah hanya pembeda saja, tetapi didalamnya terdapat nilai-nilai kebersamaan, baik dalam penentuan pendapatan maupun biaya. Hal ini pasti tidak di dapati pada pelaku usaha lainnya dimana “pangsa pasar” di posisikan sebagai konsumen murni dan tidak pernah di libatkan dalam proses pengambilan keputusan apapun.


G. Beberapa Gagasan Yang Mengstimulan

Koperasi sebagai alat perjuangan pemenuhan aspirasi dan kebutuhan anggotanya di bidang ekonomi, sosial dan budaya, senantiasa harus mengembangkan ragam gagasan sehingga meningkatkan peluang keterwujudan hidup yang lebih berkualitas dari segenap anggotanya. Hal ini tidak terbatas pada perjuangan yang bersifat material saja, tetapi juga menyangkut hal-hal im-material sepanjang berhubungan dengan pembangunan kualitas hidup yang lebih baik. Sebagai sebuah gagasan, peningkatan kesejahteraan tidaklah hanya dengan cara meningkatkan pendapatan, tetapi juga bisa melalui peningkatan kecerdasan menggunakan pendapatan. Disinilah letak koperasi yang multi dimensi dan tidak terbatas pada perjuangan perolehan SHU sebesar-besarnya.

Berikut ini dijabarkan beberapa gagasan yang dimaksudkan untuk men-stimulan peningkatan pemahaman dan pemaknaan koperasi sekaligus mengisnpirasi semangat pengayaan ragam ide dalam mengembangkan sebuah koperasi, yaitu :

1. Mengkampanyekan hidup sederhana. Fakta menunjukkan bahwa individualisme begitu merebak dan berimplikasi pada suburnya budaya konsumerisme di tengah masyarakat yang didalamnya juga adalah anggota koperasi. Lewat ragam propaganda yang terus dikembangkan oleh produsen (penghasil barang dan jasa) non koperasi, telah menjebakkan masyarakat terobsesi pada slogan “yang penting hebat dan modern”. Merasuknya slogan ini di ikuti dengan di produksinya ragam barang dan jasa yang melebihi fungsinya. Sebagai contoh, mobil tak lagi sekedar fungsi alat transportasi, tetapi telah menembus fungsi harga diri. Demikian juga halnya dengan Handphone yang tidak lagi sebatas fungsi komunikasi, tetapi telah memasuki bagian dari gaya hidup modern. Syukuran pernikahan yang fungsi dasarnya adalah sosialisasi untuk menghindarkan dari fitnah, telah berubah simbol harga diri sehingga setiap orang menjadi terobsesi menggelar pesta mewah. Kalau ditelusuri lebih dalam, Banyak lagi contoh lainnya. Ironisnya, sebagian anggota masyarakat memaksakan diri haya untuk sebuah pengakuan “hebat atau modern”. Tata nilai dan budaya masyarakat telah tercerabut dari akarnya dan hal ini berpotensi menyebabkan bangsa ini kehilangan jati dirinya. Sebagai alat perjuangan membangun hidup yang lebih berkualitas, koperasi seharusnya mengambil inisiatif melakukan koreksi bijak lewat ragam tindakan sehingga masyarakat (khususnya anggota koperasi ) tidak masuk lebih dalam lagi ke dalam arus yang keliru. Misalnya, koperasi bisa mengkampanyekan perlunya “hidup sederhana”. Hal ini juga bisa di perkuat dengan penerbitan kebijakan pengetatan pemberian pinjaman kepada anggota yang peruntukkannnya untuk kebutuhan konsumsi. Disisi lain, kampanye “hidup sederhana” ini juga bisa di hubungkan dengan peningkatan gairah menabung lewat menekan naluri konsumsi anggota. Dengan demikian, program ini tidak hanya akan membentuk gaya hidup anggota menjadi lebih bijaksana, tetapi juga meningkatkan kemampuan koperasi dalam mengembangkan ragam investasi berbasis kolektivitas melalui pertumbuhan gairah menabung. Perumbuhan simpanan anggota di koperasi akan meningkatkan kemampuan koperasi mendukung aktivitas-aktivitas produktif anggota atau mengembangkan unit layanan yang meningkatkan pendapatan riil anggotanya.

2. Membudayakan Kepedulian. Kepedulian adalah bagian dari prinsip koperasi dan merupakan turunan dari nilai kesetiakawanan yang dijunjung tinggi koperasi. Bicara tentang peduli, tentu tak lepas dari persoalan empati dan mengerti kesusahan orang lain serta kemudian berinisiatif meringankan beban orang lain lewat berbagi. Kebiasaan berbagi memang bukan perkara mudah dan bahkan harus dipaksakan pada awalnya. Namun demikian, ketika diresapi lebih jauh, berbagi ternyata bukan hanya persoalan memberikan sebagian dari apa yang kita miliki, tetapi ini juga berkaitan dengan pembangunan sensitivitas terhadap sekitar. Padahal, membahagiakan orang lain juga merupakan strategi membangun kebahagiaan diri sendiri. Cobalah cermati ketika anda memberikan sesuatu pada orang lain atas apa yang sedang sangat dia butuhkan, anda akan menemukan satu kebahagiaan yang tak cukup dengan kata ketika menyaksikan ekspresinya saat menerima pertolongan anda. Ketika “berbagi” menjadi kebiasaan dan bahkan menjadi candu (addictive), tanpa disadari alam bawah sadar terdorong untuk lebih produktif. Kebaikan-kebaikan dari kebiasaan berbagi dan relevansinya terhadap keterbangunan hidup berkualitas merupakan alasan rasional mengapa koperasi layak untuk mengkampanyekan hal ini. Dalam tahap implementasinya, koperasi bisa menyediakan “kotak peduli” disetiap outlet usahanya, seperti toko, simpan pinjam dan lain sebagainya.

3. Mengelola Bank Sampah. Dalam tinjaun vertikal, kebersihan adalah sebagian dari iman. Sementara itu, dalam tinjauan horizontal, hidup bersih adalah bagian dari upaya menciptakan hidup sehat. Dalam hal ini, Koperasi bisa mengembangkan kebiasaan hidup sehat lewat pengelolaan sampah rumah tangga. Anggota di edukasi untuk memisahkan sampah organik dan non organik. Selanjutnya, koperasi mengambil tanggungjawab untuk memikirkan bagaimana sampah-sampah tersebut memiliki nilai manfaat lewat pengembangan industri kreatif. Bila perlu, untuk lebih mendukung program ini, anggota bisa membayar transaksi kebutuhannnya di toko milik koperasi dengan sampah yang sudah dikumpulkan oleh anggota. Bukan hanya itu, anggota juga bisa membayar cicilan pinjaman dengan sampah rumah tangga yang mereka kumpulkan. Selanjutnya, koperasi bisa mengembangkan industri kreatif dengan kumpulan sampah-sampah tersebut. (terinspirasi dari apa yang sedang dikembangkan oleh kawan-kawan koperasi di kab.malang, Jawa Timur)

4. Revitalisasi Simpan Pinjam. Sebagai unit layanan yang berurusan dengan lalu lintas uang, unit simpan pinjam berperan strategis dalam membentuk karakter anggota. Simpan Pinjam, yang fakta mayoritasnya di dominasi aksi pinjam merupakan unit layanan yang bisa difungsikan tidak sebatas penyaluran pinjaman, tetapi juga sebagai “alat edukasi” bagi anggota. Peng-kampanye-an slogan “Pinjaman sebagai jembatan untuk menabung” saatnya didengungkan. Artinya koperasi perlu menekankan pada pemberian pinjaman produktif dan meminimalisir pinjaman konsumtif yang hanya akan memposisikan koperasi sebagai agen pertumbuhan budaya konsumerisme itu sendiri.

5. Relevansi aktivitas koperasi dengan peningkatan produktivitas anggota. Relevansi antara aktivitas yang dikembangkan koperasi dan produktivitas anggota perlu menjadi perhatian, sehingga ada hubungan linier dari pertumbuhan dan perkembangan di kedua sisi tersebut. Sebagai contoh, pada koperasi yang anggotanya menekuni usaha perdagangan retail, maka koperasi seharusnya memposisikan diri sebagai suplier bagi usaha anggota sehingga tidak terjadi tabrakan kepentingan. Disamping itu, koperasi juga selayaknya mengambil tanggungjawab untuk ikut mengembangkan kapasitas anggota sehingga kualitas pengelolaan usahanya menjadi lebih berdaya saing tinggi. Demikian hal nya pada koperasi yang dihuni oleh para pengrajin, koperasi bisa memposisikan diri sebagai suplier bahan baku, support teknologi dan akses pemasaran serta akses permodalan lewat mobilisasi potensi menabung anggota atau sumber lainnya yang memungkinkan. Bagi koperasi yang anggotanya mayorittas berprofesi petani padi, koperasi seharusnya memainkan peran sebagai penyedia saprodi dan juga menyelenggarakan penyuluhan pertanian untuk hasil tanam yang lebih bekualitas. Disamping itu, koperasi bisa menyelenggarakan rice mill (penggilingan padi) dan sekaligus memasarkannya dengan pola yang lebih membuka peluang anggota mendapatkan hasil yang lebih baik ketimbang hanya dijual dalam bentuk gabah kepada para tengkulak. Kalau hal demikian dipertimbangkan dalam pemilihan aktivitas koperasi, maka bisa dibayangkan akan tercipta pemberdayaan (empowering) dikalangan anggota dan dipastikan berimplikasi positif bagi pertumbuhan koperasi secara kelembagaan maupun peningkatan produktivitas anggota. Disamping itu, koperasi juga berpotensi menjadi mesin pencetak para wirausahawan handal yang bersumber dari anggotanya.
6. dan lain sebagainya.


H. Penghujung

Koperasi adalah kumpulan orang yang dalam proses pencapaian tujunnya melalui mobilisasi komitmen segenap unsur organisasinya. Kesamaan persepsi atas apa, mengapa, bagaimana berkoperasi dan pemahaman atas arah yang di tuju koperasi, menjadi 2 (dua) hal sumber energi strategis bagi setiap unsur organisasi untuk mengambil peran proporsional secara sadar dan penuh tanggungjawab.

Dalam hal kehadiran sebuah koperasi yang meng-anggota menjadi sebuah keinginan, maka kemampuan koperasi mewujudkan diri sebagai mesin penjawab keterpenuhan kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya anggota-nya menjadi satu hal yang harus diwujudkan. Oleh karena itu, relevansi antara aktivitas koperasi dengan aktivitas anggotanya seharusnya saling mendukung dan bukan saling meniadakan. Utuk itu, sebelum koperasi menetapkan tujuan dan melangkah lebih sejauh, sebaiknya segenap unsur organisasi menyelenggarakan agenda penyatuan kepentingan.

Secara garis besar, arah pemilihan aktvitas pengembangan koperasi yang meng-anggota adalah keterbangunan kualitas hidup anggota dalam arti se luas-luas nya . Sementara itu, dalam pencapaiannya bisa menggunakan 2 (dua) alternatif berikut ini :

aktivitas Berbasis Pencerdasan penggunaan pendapatan. Dalam cara ini, kebersamaan dalam berkoperasi bisa diarahkan pada penciptaan efisiensi kolektif lewat tindakan bersama. Sebagai contoh, pada koperasi yang mengakar terkumpul potensi kebutuhan yang pemenuhannya bisa dilakukan oleh koperasi. Semakin besar kebutuhan, maka semakin rendah pula nilai prolehan yang harus dibayarkan . Aksi semacam ini pasti akan meningkatkan pendapatan riil anggota. Mengkampanyekan hidup sederhana juga merupakan contoh aksi kolektif yang diarahkan pada penurunan naluri konsumsi sehingga mempertinggi kemampuan anggota untuk menabung. Terakumulasi-nya sejumlah modal dari tabungan memperbesar peluang koperasi mengembangkan aktivitas investasi yang berorientasi pada pemenuhan ragam kebutuhan anggota yang lebih efisien.
aktivitas Berbasis Peningkatan Produktifitas Anggota. Cara ini tepat diterapkan pada koperasi beranggotakan orang-orang produktif, seperti petani, pengrajin dan lain sebagainya. Dalam hal ini, koperasi bisa mengambil peran memperluas akses permodalan (baik lewat tabungan anggota maupun akses lainnya), support teknologi sehingga output lebih bernilai, packaging dan perluasan market (pasar) sehingga mendukung pertumbuhan produksi. Dengan demikian, koperasi akan besar seiring dengan semakin tumbuh dan berkembangnya anggota.

Demikian disampaikan, beberapa pemikiran sederhana ini semoga meningisnpirasi lompatan energi untuk semakin menumbuhkembangkan koperasi yang meng-anggota dengan pertumbuhan kebermanfaatan yang terus meningkat. Amin. []

*) Disampaikan pada kegiatan “Pengembangan Koperasi Berbasis Partisipasi Anggota” yang dilaksanakan oleh Disperindagkop Kab. banjarnegara, di Hotel Asri,Banjarnegara, 16-17 Oktober 2012
**) Penulis adalah general manager KPRI SiSehat. Aktif sebagai bagian di Kopindo, Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template