Home » , » Memfilter Modernitas dengan Sepeda Ontel

Memfilter Modernitas dengan Sepeda Ontel


Siapa sangka, sepeda ini terlahir tahun 1918. Jauh sebelum Indonesia Merdeka
Suatu minggu yang cerah di Bulan November, tim SiSehat mempunyai kesempatan berkunjung ke kediaman salah satu anggota SiSehat. Lagi-lagi sang anggota yang mempunyai kreatifitas spesial. Sejak langkah pertama menapaki rumahnya, tim SiSehat sudah mulai dikejutkan dengan deretan sepeda-sepeda ontel yang berada di depan rumah. Berjajar rapi dan bersih. Begitulah aktivitas yang selalu dilakukan oleh si anggota SiSehat itu pada saat berkahir pekan. Tiada lain bapak yang sedang merapikan sepeda itu adalah Pak Toto Sudjadmitko.

Ditemani udara yang masih segar khas Kemangkon, Purbalingga, tim SiSehat sangat merasa kerasan. Bagaimana tidak, rumahnya asri dihiasi gazebo sederhana yang berhadapan dengan lapangan hijau dan kebun. Sungguh pemandangan yang asyik.

Sambil menikmati suguhan kopi hitam panas, Bapak kelahiran 12 Juli 1965 ini mulai bercerita tentang hobinya. Pemandangan pertama yang dilihat oleh tim SiSehat di depan rumahnya, deretan sepeda, merupakan hobi yang ia geluti. Beliau memang sedari kecil sudah mulai suka dengan sepeda ontel.


Tiap akhir pekan, warga Kemangkon akan disuguhi pemandangan deretan Sepeda. Takjub!
“Dulu saya waktu kecil ke mana-mana suka pakai sepeda ontel” ujar bapak berkumis itu kepada SiSehat. “Saat itu yang pakai sepeda juga masih jarang-jarang, jadi ada nilai historisnya” tambahnya. Beliau pun menambahkan kembali, “Apalagi jika mengenang jaman-jaman saat masih penjajahan, baik pas zaman Belanda ataupun Jepang, sepeda ini menjadi salah satu alat transportasi yang penting. Nilai sejarahnya tinggi”. Memang memiliki hobi ini selain asyik karena memiliki fungsi pengingat romantisme zaman dulu juga bisa menjaga kesehatan. “Ngontel juga sekalian berolahraga, badan pun jadi sehat” imbuhnya kepada tim SiSehat. Dengan alasan-alasan itu Pak Toto mulai menggeluti hobi.

Sejak dari empat tahun lalu bapak yang tanggal lahirnya sama dengan Hari Koperasi Indonesia ini mulai menggeluti hobinya ini, dari yang awalnya dengan niatan “iseng”, sebagai pengingat memori saat zaman masih kecil, akhirnya beliau memilih untuk menseriusi hobi tersebut. Dalam menjalankan hobi koleksi sepeda ontelnya ini, Pak Toto tidak sendirian, beliau secara pribadi sering menyebarkan semangat pelestarian salah satu cagar budaya tersebut kepada yang lain.

Rapi dan bersih
Beliau mengakui semangat dalam menjalankan hobi spesialnya tersebut terinspirasi dari orang tuanya. Seakan “darah ontel” itu terus mengalir, kini anak-anak dari Pak Toto, bahkan istrinya pun ikut berhobi berontel ria. Tak jarang tiap akhir minggu beliau bersama keluarga memiliki agenda ngontel bareng. Hal ini, akunya, bisa menjadi memperat kekeluargaan.

Menariknya, ketiga anaknya suka dengan sepeda ontel tidak pernah ada yang dipaksa oleh orang tuanya. Mereka mempunyai inisiatifnya sendiri. Bahkan anaknya yang paling besar, yang sudah duduk di bangku kuliah sengaja membawa sepeda ontelnya ke tempat kuliahnya. Tampaknya anak sulungnya itu paham benar dengan bersepeda ontel bisa jadi sorotan orang, tak jarang juga decak kagum orang lain.

Tak hanya keluarganya, dengan koleksi sepeda ontel yang menyentuh angka 30, beliau tak segan untuk meminjamkan para tetangganya yang ingin ikut meramaikan mengontel bareng. Dalam kesempatan tertentu, koleksi sepeda beliau digunakan secara berjamaah oleh para tetangganya, ngontel bareng dari satu tempat ke tempat lain. Sungguh cara harmonisasi lingkungan terdekat yang luar biasa!

Awas jangan macam-macam! Tenang ini cuma variasi.
Mempunyai hobi yang berhubungan dengan nuansa klasik memang selalu memiliki rintangannya sendiri. Seperti yang dialami Pak Toto, karena sudah tidak diproduksi lagi, beliau sulit menemukan spare part sepeda ontel yang orisinil. Maka beliau memilih mencari ke luar kota seperti ke Yogyakarta, Kebumen, Cirebon dan Tegal. Beliau pun sempat menunjukan kepada tim SiSehat lampu orsinil yang berhasil beliau beli.

Ragam merk dan jenis sepeda ontel kini beliau miliki. Dari mulai Gazelle, Humber, Robinson, Simplek, dll. Tahun produksinya pun beragam, bahkan beliau memiliki sepeda ontel buatan tahun 1918, tahun di mana rakyat Indonesia masih berjuang demi meraih kemerdekaan. Ada kebanggan tersendiri yang menghinggapi beliau, karena sekurangnya memiliki sebuah “monument sejarah” saksi semangat perjuangan orang-orang terdahulu.

Dengan topi kebangaannya
Oh iya ada keahlian unik dari sarjana hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini dalam berontel. Saat masih muda, beliau mampu berdiri dengan ontel tanpa menginjakan kaki dalam tempo waktu yang cukup lama, bisa sampai dua puluh menitan. Jelas keahlian ini butuh keseimbangan yang kuat dan latihan yang massif. Ihwal unik ini memperlihatkan kepada kita Pak Toto tak sekedar hobi mengontel tapi juga mahir beratraksi.

Bergabung di komunitas

Di tengah kesibukan tetap berkomunitas
Di sela waktunya yang padat, beliau masih menyempatkan diri bergabung menjadi anggota komunitas penyuka sepeda ontel di Purbalingga yang bernama Puspito (Purbalingga Sehat Pit Onta). Di komunitas itulah tempat beliau saling berbagi dengan rekan-rekannya sesama penyuka sepeda ontel, dari mulai pengalaman, sampai kebutuhan yang berkaitan dengan sepeda ontel.

Dengan bergabungnya beliau menjadi anggota Puspito, beliau mendapat kesempatan bertemu dengan orang-orang yang memiliki hobi yang sama di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan tersebutlah beliau semakin memupuk beragam pengalaman yang didapat dari segala penjuru Indonesia.

Bapak yang mempunyai ketangkasan dalam olahraga billiard ini pun ikut serta bergabung menjadi anggota Kosti (Komunitas Sepeda Tua Indonesia). Ada ihwal menarik, dengan kesibukannya yang padat, beliau masih menyisakan waktu untuk kebersamaan.

Sepeda yang tak sekedar sepeda
Si empunya di antara sepeda favoritnya
Hari ini bius dari modernisme semakin hari semakin kuat. Imbas negatif dari modernisme yang begitu mendominasi pun mulai memudarkan tradisi kearifan lokal. Tengoklah spririt gotong royong yang dulu pekat dalam benak karena sudah menjadi cerita yang terwariskan orang-orang terdahulu, semakin hari semakin terkikis. Harus ada filter yang mampu menyaring sisi negatif dari modernisme. Sepeda ontel ketika di bawah tangan dingin Pak Ratno bertransformasi menjadi filter moderinsme tersebut. Sepeda ontel ini merubah wujud jadi inspirasi kesederhanaan, kebersamaan dan kekeluargaan yang mulai habis tersudutkan sisi negatif modernisme.

Sepeda ontel ini tidak hanya menjadi sepeda seperti pada penampakannya, namun mempunyai nilai lain yang luar biasa. Si Anggota SiSehat bernomor 1638 ini menilai dengan memiliki hobi koleksi sepeda antik memiliki visi nilai tentang kesederhanaan. Di tengah arus modernisasi yang mengebu-gebu, sepeda ontel ini hadir sebagai jeda dan pengingat tentang artinya hidup sederhana. Ketika banyak produk transportasi hasil dari sistem ekonomi yang pro kepada pola konsumsi tanpa batas membuat sumpek jalan, tak jarang membuat macet dan penimbul polusi bagi bumi yang kita diami bersama, sepeda ontel ini hadir sebagai penunjuk kepada kita ada jalan lain untuk mencintai bumi dengan tidak mengotorinya.

Sebuah simbol kesederhanaan
Sepeda antik yang menjadi simbol kesederhanaan ini bisa menstimulus para penggunanya atau orang-orang yang melihatnya untuk menjadi lebih arif dan bijak dalam hidup. Di jalan seringkali kita menemukan orang yang terlampau egois, tidak memberi ruang jalan pada yang lain, kebut sana-sini, dll. Dengan hadirnya sepeda antik ini di jalan raya mampu menjadi pengingat jika ada hak orang lain, khususnya ruas para pengguna sepeda, yang seringkali terambil oleh pengendara kenderaan bermesin.

Seperti yang dijelaskan Pak Toto, di komunitasnya tidak pernah mengenal latar belakang sosial para pengguna ontel. Semuanya sama. Mereka melepaskan semua pernak-pernik kehidupan demi satu kebersamaan: sepeda ontel. Begitupula dalam implikasi kehidupan keseharian, patutnya kita meniru inspirasi kecil dari ontel ini yang mampu menghilangkan atribut duniawi ketika berontel. Sebagai manusia, kita berada dalam posisi yang sama di hadapan Sang Pencipta. Tak perlu ada yang disombongkan. Begitulah sepeda ontel jika ditilik lebih dalam, bisa mengajarkan kita tentang arti kehidupan.

Hal lain dari sepeda ontel yang melampaui kondisinya fisiknya adalah mengajak kita tentang artinya kebersamaan. Bapak yang sudah menjadi anggota SiSehat sejak tahun 1994 ini bercerita tentang ragam pengalamannya ketika berontel. Selalu saja ada nilai kebersamaan yang menyelimuti antar sesama pencinta ontel. Baik saat berkumpul atau bersua di jalan. Bahkan tak jarang antar sesama pengguna ontel saling tegur sapa walau belum mengenal satu sama lain. Dari kebersamaan yang terpupuk membuat rasa kekeluargaan semakin mengental. Sehingga saat ada momentum saling memberi, bukanlah berdasar pada kepentingan material semata. Namun pemberian murni sebagai keluarga. Nuansa harmonis terjaga yang perlu diadaptasi dalam kehidupan keseharian kita.

Tetap membawa RSMS ke mana-mana
Walaupun tidak ada standarisasi harga dan memang tujuan para pecinta ontel pun bukan materil tapi kesenangan dan kepuasan hati, namun secara umum mengoleksi sepeda antik seperti yang dilakoni oleh ayahanda dari Satya Agustian, Nurdwi Jatmiko, dan Andina Fitria ini bisa bernilai investatif. Seiring waktu sepeda-sepeda ontel akan menjadi cagar budaya nan sukar dicari. Bagi mereka yang suka dengan nuansa klasik untuk memperindah hidup tentu tak sungkan untuk merogoh kocek lebih untuk mendapatkannya. Pak Toto sempat bercerita beliau pernah bertemu dengan pemiliki sepeda ontel di luar kota yang bernilai puluhan juta rupiah. Mungkin bahasa lucunya hobi koleksi sepeda ontel adalah hobi yang ada bonusnya.

Tapi saat ditanya tim SiSehat apakah Pak Toto ingin menjualnya, beliau merasa keberatan karena sepeda ontel sudah menjadi bagian besar dari sejarah hidupnya. “Itu (sepeda ontel) sudah jadi bagian dari hidup, jadi susah melepasnya,” tutupnya. []



kpri_sehat's  album on Photobucket

10 komentar:

  1. niece info gan , janagn lupa mampir balik ya

    BalasHapus
  2. mantap.. jangan lupa liat artikel saya juga gan...

    BalasHapus
  3. Minat saya juga sebenarnya. Sayang, harga sepeda ontel pada mahal...
    =="

    BalasHapus
  4. Saya jadi ingat sama sepeda ontel punya almarhum bapak saya bang..heee

    BalasHapus
  5. Mantab mas brow.... bravo untuk komunitas sepeda ontel.

    BalasHapus
  6. asyik jg tp sayang sekarang harganya jadi tinggi bgt

    BalasHapus

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template