Home » , » Menjadi Pahlawan

Menjadi Pahlawan

Seperti banyak diketahui, 10 November merupakan hari pahlawan nasional. Tanggal yang mempunyai fungsi pengingat sejarah gempita perjuangan para pahlawan kita. Saat ini, Tahun 2012 semangat zaman tentu sudah berubah, tapi semangat menjadi “pahlawan” tentu tidak boleh pudar.

Seorang anak SD ditanya, “Siapa nama pahlawanmu, nak?”, tak butuh waktu lama, anak itu dengan tegas menjawab, “Ayah saya!”. Dari celoteh sederhana di muka, hari ini konteks “pahlawan” memang sudah bermakna luas. Tidak lagi dimaknai pahlawan itu harus pergi turun berperang melawan penjajah. Seperti cerita tadi, menjadi seorang ayah yang baik pun bisa turut menjadi “pahlawan”.

Bagi mereka yang sudah menapaki dunia kerja, pintu peluang menjadi seorang pahlawan sangat terbuka. Iya, pahlawan di tempat kerjanya! Dengan selalu memberikan hal terbaik, sebuah pengabdian yang tak lekang oleh waktu, predikat pahlawan layak diberikan bagi para orang-orang yang berkarya di tempat kerja. Menariknya, tidak seperti yang selalu diperlihatkan dalam film superhero sosok sang pahlawan dihadirkan hanya orang itu-itu saja, di dunia kerja, menjadi pahlawan bisa dilakukan oleh siapa saja. Dalam konteks ini, semua bisa beramai-ramai menjadi pahlawan berjamaah.


Hebatnya menjadi “pahlawan” zaman sekarang tidak akan tersekat ruang. Tak hanya di ruang kerja, begitu pula di tempat-tempat lain, termasuk di lingkup keluarga. Setelah bekerja cerdas di tempat kerja, orang-orang yang senantiasa berkarya juga selalu berupaya memberikan waktu yang berkualitas bagi keluarga, atau teman-teman di luar tempat kerja.

Mengisi Kemerdekaan

Soekarno Pahlawan Indonesia. Kini kita bisa melanjutkan menjadi "pahlawan" dengan cara berbeda
Mengenang hari pahlawan harus ditindak-lanjut dengan bagaimana kita mencari cara mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangakan oleh para pahlawan kita dulu dengan keringat dan darah. Tentang mengisi kemerdekaan ini, kita bisa menarik hikmah dari dua negara besar Asia: Korea Selatan dan Jepang.

Di Korea Selatan ada slogan bbalri-bbalri yang kerap didengungkan masyarakat sana. Slogan ini diteriakan saat masa-masa awal kemerdekaan Korea Selatan di arena luas, seperti di pasar, lapangan, pabrik, kantor dan tempat lain. Bblari-bbalri bermakna cepat-cepat, diteriakan sebagai penggugah semangat pada saat zama itu, mirip seperti di Indonesia saat masa-masa kemerdekaan yang selalu meneriakan kata merdeka. Singkat kata semboyan bbalri-bbalri telah menyatu, mendarah daging dan membentuk budaya, sehingga orang Korea Selatan itu bekerja cepat. Pekerjaan tidak ingin ditunda-tunda, mereka berusaha menyelesaikan dengan cepat, jika bisa diselesaikan hari ini kenapa mesti ditunda esok. Prinsip utama mereka lebih cepat lebih baik.

Di Korea Selatan begitu pula Jepang. Jepang memiliki slogan “gambaru” yang kini telah mendarah daging di benak masyarakat di sana. Gambaru merupakan semangat kerja pantang menyerah, tidak mau bermalas-malasan, berjuang habis-habisan dalam meraih tujuan bahkan jika perlu siap mundur jika merasa gagal dalam mengemban tugas. Dengan semangat gambaru ini pula kita menyaksikan Jepang bangkit dari keterpurukan ekonomi. Saat usai Perang Dunia II, nilai yen terpuruk terhadap dolar. Namun Jepang melangkah pasti, melalui spirit gambaru pemerintah dan bangsanya berhasil meningkatkan nilai tukar yen. Menguatnya yen merupakan hasil kerja keras bukan hasil denominasi nilai mata uang, atau jalan pintas yang tanpa kerja keras.

Korea Selatan dengan slogan bbalri-bbalri berhasil mengangkat kualitas SDM bangsa dan menjadikan negaranya dewasa ini sebagai macan asia perekonomian. Sementara itu Jepang dengan spirit gambaru tak kenal lelah terus melesat menjadi Negara maju sejajar dengan Negara adi daya lainnya.

Masyarakat Korea Selatan dan Jepang telah menjadi pahlawan bagi negaranya masing-masing yang disemati ruh semangat inspirasi dari slogan-slogan yang mereka kerap kali ucap, bahkan teriakan. Ada hikmah yang menggugah, Indonesia pun tidak mustahil untuk melakukan langkah yang sama. Mulai dari kita sendiri, dari lingkungan sekitar. Bahkan bila ditelisik lagi, sepatutnya kita bisa saja lebih, jika di kedua negara yang diceritakan di muka hadir slogan-slogan sebelum beraktivitas yang memotivasi, di sekitar kita pun sudah ada yang melakukannya. Mereka adalah orang yang senantiasa memulai aktivitas kerjanya dengan doa dan keyakinan untuk selalu memberikan yang terbaik dan pengabdian diri bagi tempat kerjanya. Jika ini dibiasakan dalam keseharian, ada ikatan horizontal (kepada sesama manusia) dan vertikal (kepada Tuhan) yang menjadi dasar aktivitas-aktivitas kita. Pertanyaannya sekarang, lantas apakah kita termasuk dalam kategorisasi tersebut? Mari berefleksi! []

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template