Home » , , » Tangan Dingin Sang Pencetak Jawara

Tangan Dingin Sang Pencetak Jawara



Siapa sangka sosok kalem ini punya hobi asyik yang jarang dimiliki khalayak banyak. Hobi yang tak hanya butuh skill semata tapi juga harus mampu mengendalikan emosi serta kemampuan menterjemahkan kesabaran. Dua hobi tersebut yaitu slalom dan off road. Ini bukan soal jago kebut-kebutan semata, ada nilai luar biasa yang bisa diresapi. Tim SiSehat yang sempat mewancarai awal Bulan Desember ini pun dibuat kembali tercengang.

Beliau tak lain adalah Bapak  Madiyono Saputro atau sering akrab disapa Bapak Saputro. Di tengah kesibukannya sebagai wakil direktur rumah sakit, beliau masih sanggup membagi waktu untuk aktualisasi hobinya. Bagi sebagian kalangan kedua hobi ini cukup extreme karena harus punya modal keberanian yang tinggi.  Slalom dan off road olahraga otomotif yang selalu membuat detak jantung bertambah cepat, termasuk bagi para penontonnya.

Menariknya, bapak kelahiran Boyolali ini menemui hobinya yang off road berawal dari ketidaksengajaan. Berawal dari bisnis yang digelutinya, jual-beli mobil, sampai pada suatu waktu pada tahun 2009 silam ia mendapat mobil jeep. Sampai pada akhirnya ia menemukan kekerabatan yang luar biasa dari para rekanan yang tergabung dengan komunitas off road. Sebuah hal yang tidak disangka-sangka baginya, karena dulu beliau pernah punya prasangka jika para pecinta jeep tampak selalu sendiri/individu dalam berhobi. Namun ketika mulai mengenal lebih dekat, buah pikiran semacam itu langsung hilang. Dari yang tidak suka malah sekarang malah berubah menjadi sebagian hidup bapak beranak empat ini.

Pak Saputro memang sudah mulai ketertarikan tersendiri dengan dunia otomotif dari semasa masih muda. Ketika sudah berumah tangga, beliau lebih menseriusi dan juga mengenalkan hobi kepada anak-anaknya.
Soal dukungan keluarga tidak perlu dipertanyakan lagi. Di manapun beliau melaksanakan hobi, baik sekedar latihan atau mengikuti lomba, sanak keluarga selalu ikut datang dan mendukung. Bahkan dua dari empat anaknya kini menggeluti hobi yang sama.

Menawarkan pada anak
Ada prinsip yang dipegang oleh Pak Saputro untuk selalu mampu menjaga dan membimbing anak-anaknya pada hal yang positif. Mengenalkan hobi ini ke anak-anaknya juga termasuk cara yang beliau gunakan untuk untuk bisa menjaga dan mengawasi anak-anaknya untuk tidak keluar jalur. Imbas positif memiliki hobi unik seperti off road dan slalom jadi memiliki rekanan dan jaringan luas. Nah, peluang ini yang beliau optimalkan. Saat Pak Saputro mengenalkan hobi ke anak-anaknya juga sekaligus mengenalkan ke para rekanan beliau di komunitas itu. “Sekalian saya titipi anak saya ke teman-teman saya,” ujar Pak Saputro. Cara yang digunakan Pak Saputro ternyata mutakhir, anak-anaknya bisa menyalurkan ekspresinya tanpa harus bergaul dengan yang illegal, balapan liar dan semacamnya. 

Dengan mengenalkan dari awal, bahkan sejak anaknya masih SD, Pak Saputro justru bisa meredam luapan ekspresi remaja anaknya yang biasanya meluap-luap. Ada benarnya, bila melihat konteks hari ini tak sedikit para remaja yang terjerumus dalam tindak negatif. Apa lagi sesi remaja adalah fase penemuan jatidiri dan ego ke-akuan yang sering naik turun. Bila tidak diawasi dengan cermat, sang anak bisa terjebak pada hal yang tidak-tidak.

Oh, iya soal hobi off road, bisa dikatakan justru anak keduanya, Izal Alaro atau akrab disapa Aro lah yang pertama kali mulai menggeluti. Jadi ceritanya pernah suatu waktu, tanpa diberi tahu Aro diajak rekan Pak Saputro untuk latihan off road. Dari pengalaman itu, lelaki kelahiran tahun 1995 lalu itu malah mulai menikmati. Seiring waktu sering ikut latihan dan meningkatkan kapasitasnya. Akhirnya Pak Saputro pun tergiur untuk mengikuti hobi anaknya itu. Jadi sang anak yang mempengaruhi ayahnya. Lucu, bukan?
Mengenalkan hobi ini Pak Saputro tidak sembarangan, beliau pun tak lupa selalu membekali dengan edukasi yang mudah dicerna oleh anak-anaknya. Yang selalu beliau sampaikan adalah tentang apa yang dimiliki semuanya adalah titipan Tuhan, dan sebagai manusia harus senantiasa menjaga amanah untuk selalu menjaganya. Itulah yang akhirnya memupuk rasa bijak anak-anaknya dalam bertindak. 

Proses edukasi kekeluargaan ini berimbas positif. Sang anak, Aro, sama sekali tidak pernah berkeinginan untuk menggunakan mobil saat pergi ke sekolah. Bahkan ia lebih memilih angkutan umum. Karena baginya harus bisa memisahkan mana hobi mana aktivitas hariannya. Sesekali ketika ia terpaksa membawa mobil ke sekolah, ia memilih memarkir mobilnya jauh-jauh ratusan meter jarak dari sekolah. Saat pulang sekolah pun harus menunggu sepi, baru ia bisa pulang. Sebuah pengalaman remaja yang jarang-jarang ditemukan. Tindak bijak ini kiranya buah dari edukasi dari sang orang tua.

Ketika Aro berproses lama berslalom dan beroff-road ria, akhirnya sang kakak, Riska Apratima atau akrab dipanggil Icha pun ikut terbius dengan hobi kedua lelaki yang ada di keluarganya. Mungkin karena sering ikut menonton dan mendukung adiknya latihan atau saat kejurda membuat Icha gerah dan tergiur untuk mencoba menyicipinya.  Tapi untuk hal ini, Icha hanya memilih slalom. Berawal dari pengidolaan mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman ini kepada seorang atlit perempuan slalom nasional, Alinka Hardiati, akhrinya ia terinspirasi untuk mengikuti jejak idoalnya tersebut. Jadilah keluarga pencinta off road dan slalom; berbagi peran ada yang mengemudikan ada yang support. Takjub!

Tak cuma hobi juga meraih prestasi
Lewat tangan dingin Pak Saputro, mendidik dan membekali anak-anaknya akhirnya berbuah manis. Sang ayah yang pernah mendapat prestasi juara II kejurda tahun 2010 lalu pun seakan terwariskan spirit ayahnya kepada anak-anaknya, mereka pun ikut berprestasi. “Bahkan anak-anak saya justru lebih berprestasi dari pada saya,” jelas Pak Saputro sambil tertawa.

Ragam kejuaraan pernah Aro ikuti dan menjadi juara. Salah satunya juara pertama off road Djarum Super tahun 2012. Aro setidaknya berhasil mengalahkan para peserta yang umur lebih jauh tua dan lebih berpengalaman. Aro mengalahkan para peserta dari luar kota seperti Jakarta, Semarang, Magelang, dll. Dari 10 kejuaraan terakhir yang dilakoni Aro ia memenangkan 7 pertandingan.

Kejuaraan nasional slalom tahun 2011 lalu di Semarang ia meraih posisi 5 besar, kemudian di Bandung ke 4, dan Solo ke 3. Kalau soal freestyle, Aro sudah langganan juara pertama. Prestasi yang luar biasa di umurnya yang masih sangat muda.

Lelaki yang kini duduk di bangku kelas 3 STM ini selain berprestasi di dunia otomotif sama sekali tidak mengganggu aktivitas akademiknya. Ia bahkan masuk ranking 3 besar. Bahkan ada cerita yang menarik  antara hobi dan dunia akademik anak-anak Pak Saputro, nilai akedemik Icha justru lebih meningkat saat gadis ini mulai menggeluti hobi barunya, slalom awal tahun 2012 ini. Bahkan tak tanggung-tanggung, ia kini mendapatkan beasiswa. “Bahkan Icha justru lebih bagus nilai akademiknya setelah punya hobi itu, sekarang banyak mendapat nilai A,” tambahnya ke tim SiSehat. 

Walau baru mencoba hobi barunya awal tahun 2012 ini, Icha sudah memperoleh prestasi yang prestesius. 31 Maret lalu ia langsung mendapat juara II Kejurnas Slalom di Semarang, padahal itu adalah kejuaraan perdana yang ia lakoni. Pengalaman ini yang membuat Icha semakin bertambah semangat berlatih. Tinggal menunggu waktu saja, kediamannya Anggota SiSehat bernomor id 1122 di Kalibagor ini tampaknya harus menyediakan ruang khusus untung menampung deretan piala sang ayah, putera dan puterinya.  

Menakar nilai-nilai: dari hobi ke praktik keseharian
Mengeluti hobi pasti ada alasan-alasan. Apa lagi hobi yang berkaitan dengan otomotif. Tidak hanya skill tapi juga si pengemudi harus memiliki modal kecekatan lain. Untuk slalom ujar suami dari Diah Purnama ini, si pengendara selain harus memiliki modal kapasitas mengendarai mobil juga harus pula memiliki ketangkasan, feeling, dan keterampilan. Sedangkan untuk off road, bagi Pak Saputro tidak sekedar kencang dan cepat, pengendara harus memiliki reflex yang tinggi, kerjasama yang baik dengan tim (navigator), dan kesabaran serta pengaturan emosi yang baik. 

Berkenaan dengan pengaturan dan pengendalian emosi, hal inilah yang beliau sering tekankan. Begitu pula dalam keseharian, pengendalian emosi ini perlu dimanage sedemikian rupa, agar ketika mengambil keputusan bisa lebih bijaksana, tidak tersulut emosi.”Misal ketika dalam posisi miring, kita ga bisa langsung menginjak rem begitu saja, yang ada mobil malah bisa terjatuh, kita harus sabar dalam melihat rintangan serta jeli mengambil keputusan,” ungkap Pak Saputro. Begitu juga dalam keseharian, melihat suatu masalah juga harus disisipkan pengendalian emosi.

Kemudian kerjasama dan rasa saling mempercaya sesama tim menjadi nilai yang bisa dipetik. Pengemudi dalam off road harus percaya penuh kepada navigatornya, begitu sebaliknya para navigator sebagai rekan harus bisa memberikan arahan-arahan yang benar. Dalam keseharian, kerjasama di ruang kerja harus dilaksanakan dengan optimal, rasa saling mempercayai sesama patner harus senantiasa dijaga. Satu sama lain harus saling mengingatkan. Tentang kerjasama ini berperan penting dalam kehidupan sosial kita. Kita sama sekali tidak bisa hidup sendirian, satu sama lain saling membantu, seperti penjelasan bapak yang berulang tahun tanggal 20 Desember ini ketika pertandingan off road semua tim harus bekerjasama dengan baik, si pengemudi percaya dengan navigator dan juga para tim mekaniknya, begitu sebaliknya.

Hal lain yang menarik, adalah ketika suatu hobi bisa menjadi media edukasi bagi keluarga. Pak Saputro berhasil memformulakan hobinya bisa menjadi salah satu rangkaian edukasi bagi anak-anak tentang rasa tanggung jawab dan toleransi. Tanggung jawab sebagai pelajar adalah belajar sudah dibuktikan dengan baik oleh anak-anaknya dengan prestasi sekolah dan luar sekolah.

“Ketika di lapangan hubungan bukan lagi ayah-anak tapi kawan,” jelas Pak Saputro. Ini membuktikan begitu dekatnya hubungan ayah-anak. Kiranya ini yang perlu ditiru oleh para orang tua lain. Antara orang tua dan anak saling terbuka dan bahkan untuk saling mengingatkan. Dalam hal ini ada cerita yang memukau hati, Pak Saputro sang ayah justru pernah belajar bijak dari anak. Jadi ceritanya pada kesempatan tertentu, sang anak, Aro, akan terlambat pergi latihan. Waktu latihan tinggal 10 menit lagi. Pak Saputro menyuruh anaknya untuk pergi langsung ke tempat latihan, tapi ternyata sang anak ketika itu tidak langsung pergi, malah transit bersinggah, dan mengajak bareng  teman-teman latihannya . Alhasil terlambatlah Aro. Pak Saputro yang mendengar kabar itu sempat memarahi Aro, tapi Aro justru menjawab secara bijaksana. “Di dalam off road kita tidak bisa sendirian Pak, kita selalu butuh tim kerja, begitu juga di kehidupan sosial” ucap Pak Saputro menirukan jawaban anaknya pada saat itu. Sungguh pada detik itu juga, beliau langsung luluh dan “kena” dengan jawaban Aro. Sebuah jawaban yang tidak biasa bagi seorang remaja yang saat itu masih duduk di bangku SMP. Yang tadinya ingin marah justru sang ayah malah mendapat hikmah dari sang anak. Fantastik!

Pak Saputro juga seorang ayah yang sangat mengerti keinginan terdalam dari sang anak. Pilihan melanjutkan sekolah ke STM juga tak luput dari pengalamannya yang secara tidak sengaja pernah membaca buku tahunan SMP Aro. Anak lelakinya itu menulis motto “manusia bisa hidup bukan hanya karena akademik, tapi manusia juga bisa hidup dari dari keterampilan dan bakatnya”. Sang ayah saat itu hanya mampu tersenyum haru membaca sebuah pikiran filosofis dari seorang anak SMP.

Pak Saputro dan keluarga menjalani hobi ini pun tidak lepas dengan spirit religi yang terus dibawa. Mau latihan atau pertandingan  untuk tidak lupa meninggalkan dan menunda-nunda ibadah. Kewajiban spiritual masih tetap terjaga. Pernah pada suatu waktu menunda waktu sholat untuk pertandingan, dan hasilnya tidak memperoleh juara. Hal itu pernah terjadi satu-dua kali, akhirnya dari pengalaman tersebut Pak Saputro dan sang anak memutuskan untuk tidak menunda-nunda ibadah, walau dalam keadaan genting.

Banyak hal sebenarnya yang bisa dipetik, mungkin perlu rangkaian  ribuan kata lain lagi untuk menuliskannya. Belum membahas tentang nilai supprotifitas, mentalitas, keberanian, dll.  Namun pastinya kita bisa secara bijak mengambil hikmah dan inspirasi dari rangakain cerita Pak Saputro dan keluarganya ini. Setelah baca tulisan ini, ada yang ingin ber-offroad atau berslalom. Mengapa tidak?

Salah satu aksi freestyle Aro di Surabaya


4 komentar:

  1. waaaaa keren bang aksinya, mobilnya mantep2, hehe,

    follow blog saya ya bang, dengan join in this site di bawah blog, hehhee, dan mari saling berkunjung/ komen, biar rame, hehhee, makasi sebelumnya bang :D

    BalasHapus
  2. seru nihh...hehe keren. :)

    BalasHapus
  3. luar biasa.......sukses buat arooo....

    BalasHapus

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template