Home » , , » Memetik Semangat dari dr. Dharma

Memetik Semangat dari dr. Dharma


Kerja keras akan selalu berbuah manis di akhir. Setidaknya dalam sebuah proses mencapai finish cita-cita akan banyak memberi pelajaran berharga kepada kita, manusia, untuk selalu berubah kepada arah yang lebih baik. Dari tahapan-tahapan itu akan mengembangkan diri kita, baik secara pengalaman dan juga pikiran. Tentang hal ini, SiSehat sangat beruntung memiliki anggota yang memiliki semangat demikian. Beliau adalah dr. Dharma. Di satu kesempatan, beliau bercerita banyak tentang pengalamannya itu kepada tim SiSehat.

Tahun 1996 lalu, dr Dharma mulai menginjakan kakinya di Rumah Sakit Margono ini. Ragam cerita suka duka menjadi teman keseharian sebelum beliau mengabdi di tempat ini. Sebagai lulusan dari salah satu fakultas kedokteran di salah satu universitas swasta di Jakarta membuatnya harus lebih berjibaku bersaing dengan para calon-calon dokter, biasanya, dari universitas negeri. Beliau bercerita bagaimana sulitnya perjuangan ketika ujian; ujian lokal dan khususnya ujian nasionalnya. “Setengah mati saya berjuang” ujarnya. Saat ujian lokal, bisa dikatakan berjalan mulus, walaupun di antara rekan seperjuangannya ada yang tidak berhasil. Tapi beliau menilai ketidak-berhasilannya teman seperjuangnya itu sepatutnya tidaklah perlu karena semua mahasiswa mendapatkan segala ihwal materi yang sama, tidak ada perbedaannya. “Yang membedakan paling hanya keuletan dan kerja kerasnya” tambahnya. Pasca yang lokal, hal yang paling sulit yakni ujian nasional ditempuh. Sesi ini, ujar beliau terkadang “dipersulit”, namun tanpa hilang asa terus berjuang sampai akhirnya berhasil melewati ujian tersebut.

Hal yang menarik dari pengalamannya tadi adalah etos dr. Dharma yang gigih sampai teman seperjuanganya hampir tidak tahu bila beliau sering menghabiskan waktu untuk membaca sampai 6 jam sehari. Tekad yang luar biasa ini diwujudkan dalam bentuk pendisiplinan waktu. Seperti para pemuda pada umumnya, beliau pun tetap enjoy bermain dengan teman sepermainannya, namun di luar itu beliau tetap setia dalam tekadnya itu. Buku-buku tebal khas kedokteran dilahapnya secara seksama. Bahkan tidak jarang ia secara otodidak mempelajari bagian-bagian dari ilmu kedokteran.

Pertengahan tahun 1984 menjadi momentum luar biasa bagi pengalaman kehidpuan dr. Dharma. Beliau mengabdi di salah satu kabupaten nan jauh di Flores sana. Beliau mulai melaksanakan inpresnya tahun 1984 di Kabupaten Manggarai. Di sanalah mulai banyak ragam cerita menarik, situasi itu membuatnya harus lebih mandiri dari sebelumnya. Pria kelahiran tahun 1953 ini harus membiasakan aktivitas aktivitas, dari hal yang kecil sampai yang besar. Namun soal adapatasi, beliau sangat cekatan. Konsepsi bhinneka tunggal ika tercermin dalam pengalamannya pertama kali di Manggarai, yang mana pada zaman itu, isu sensistif rasial sebenarnya sedang cukup mengemuka. Namun beliau justru bisa sangat diterima oleh rekan-rekannya yang berbeda latar belakang. Kapasitas yang mumpuni disertai jiwa profesionalitasnya yang besar itulah yang jadi kunci pintu pembuka. Bahkan ada seorang seniornya, dr Imam, yang menjadi sahabat sekaligus rekan belajar tentag “ilmu kehidupan”. Dokter dari Surabaya itu sudah bisa melihat potensi dari dr. Dharma.

Mereformasi Medan Kerja

Jika hari ini ada fenomena heboh tentang aktivitas blusukan dari seorang gubernur, si dokter yang kini tinggal di Perum Limas Agung ini pun pernah memiliki pengalaman yang mirip dengan tokoh yang sering mengenakan seragam kotak-kotak itu. Ceritanya beliau bersama timnya harus pergi ke sebuah desa di Manggarai yang sulit dijangkau. Bak sedang bergeriliya, sungai, tebing, lembah menjadi jalur yang harus dilalui oleh dr. Dharma. Bukan soal kecil, proses 5-6 jam berjalan kaki baru sampai ke salah satu kampung tersebut pasti butuh energi dan semangat yang luar biasa. “Yang menjadi motivasi saya karena sudah menjadi tugas, saya harus memenuhi tanggung jawab tersebut, dan itu memang saya sendiri justru yang mau,” tambahnya. Kalau soal fisik jangan ditanya lagi, suami dari Ibu Suzanne ini sudah mendisiplinkan dirinya berlatih selama 14 tahun. “Saya bisa sampai 60 menit sehari baik sit up, lari  atau push upnya” jelasnya sambil tersenyum.

Dalam tugas itu, ia “bertualang” dari satu puskesmas ke puskesmas lain untuk menolong masyarakat yang memerlukan bantuannya. Sampai pada satu titik keemasannya kariernya, ia ditempatkan di puskesmas Kecamatan Borong. Itu sekitar tahun 1986. Sebuah memoar yang tak kan dilupakan seumur hidupnya. Beliau semakin bisa mengembangkan kualitas dirinya. Dengan dibantu 24 pekerja yang menjadi patner perjuangan, beliau mulai melakukan pembenahan ini-itu di puskesmas tersebut. “Keinginan saya memang ingin menjadikan puskesmas itu keren!” tambahnya sembari semangat. Mulailah mulai mengatur jadwal secara terperinci dan terencana sampai hal-hal yang kecil. Pelayanan rutin, jam kerja, posyandu dan sebagainya menjadi menu reformasi khas dr. Dharma. Tak hanya itu, beliau begitu memperhartitkan soal performance. Untuk memperbaiki tampilan puskesmas biar lebih menarik tak segan ia turun tangan ikut mengecat.

Jika semua sudah beres, pelayanan dan tampilan sudah oke, tetap saja akan berasa kurang bila masih sedikit masyarakat yang berkunjung ke puskesmas tersebut. Maklum, seperti yang diceritakan oleh pria bergolongan darah O ini, akses dari masyarakat ke puskesmas memang cukup jauh dan secara kesadaran masyarakat di sana masih minim. Tak kehabisan ide, dengan kreatifitasnya akhirnya beliau meminta bantuan sosialisasi kepada tim lintas sektor saat pemberian vaksin. Maklum dengan tampilan yang selalu apa adanya itu membuat ia dekat dengan banyak pihak di sana. “Sekurangnya ada pihak dari polisi, tentara, pamong, dan tim KB yang membantu,” ujarnya sambil tertawa. Hasilnya 105% dari target tercapai. Tentu ini prestasi atas hasil jerih payah yang luar biasa karena bila disandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di kabupaten itu hanya sekitar 15% an.

Prestasi demi prestasi, karya demi karya terus dicapai olehnya. Di luar penilaian formal, puskesmas yang beliau gawangi justru sebenarnya lebih baik daripada puskesmas teladan yang ada di kabupaten tersebut. Baik secara kualitas pelayanan, pencapain target dan sebagainya. Namun itu tak menjadi soal bagi dokter yang kini bekerja di unit kerja patologi klinik RSMS ini, karena baginya yang penting sudah memberikan hal yang terbaik dalam kehidupannya, predikat teladan atau tidak itu bukan yang utama.

Semangat itu pun yang akhirnya beliau bawa ke RSMS ini. Bisa dikatakan ayah dari Anthony dan Jimmy ini pun sukses dalam pembenahan labotarium di lingkungan RSMS. Beliau melakukan instruksi reformasi total dengan cermat dalam pembenahan labotarium. Dari mulai hal administrasi, melakukan departemenisasi dengan klasifikasi unit dalam seksi-seksi, sampai penguatan kapasitas organisasi dan SDM-nya. Ada yang lewat pendekatan professional, ada juga yang lewat sentuhan personal dan kultural. Semua cara diramu sampai labotarium berdiri, berjalan dan berkalnjutan. Tentang analisis yang cerdas dan meramu caranya inilah yang menurutnya justru tidak pernah beliau temukan di kelas, justru ditemukan dari pengalaman dalam kehidupan kesehariannya.

Selain itu karya lain tentang Bank Darah. Beliau juga berkomitmen dalam pendirian bank darah. Dalam pelaksanaanya beliau memiliki prinsip “jalankan saja dulu, sambil nanti diperbaiki untuk kesempurnaan” seperti yang dijalankannya saat pembenahan puskesmas di Borong lalu. Tak jarang beliau jadi pembicara tentang bank darah di even nasional yang membuat gagasannya bisa tersebar secara makro. Bahkan, ada julukan yang dilekatkan oleh seorang seniornya dari Palembang, dr. Wisman Tjuandra, yang menyebut beliau sebagai suhunya bank darah. Salut!

Mewaspadai Zona Nyaman

Seseorang yang sudah berada dalam posisi nyaman biasanya cenderung menikmati yang sudah ada dan tidak mendorong dirinya untuk meraih hal yang lebih baik lagi serta sudah merasa puas dengan keadaan saat ini. Tapi itu tidak berlaku bagi dr. Dharma. Justu ia sangat menekankan tentang pentingnya kita bisa keluar dari zona nyaman tersebut. Tangan dr. Dharma tampaknya tidak bisa berhenti dalam berkarya. “Kita tidak tahu bagiamana masa depan kita, seperti kesehatan saja, sekarang kita sehat besok belum tentu,” maka dari itu beliau pada tahun 2005 lalu mendirikan Labotarium Diofit di daerah Jalan Perintis Kemerdekaan, Purwokerto. “Buat hidup cukuplah” jawabnya sambil dihiasi tawa tentang pendirian labotarium tersebut.
Kita memang jangan terlalu merasa aman di zona nyaman. Saat merasa terlalu nyaman, kita bisa terlena dan tidak pernah berkembang atau memperluas pengalaman. Berdiam diri mungkin memberi kehidupan yang aman bagi kita,tapi kediaman itu dapat berarti kebosanan, kemandekan, dan ketidakproduktifan. Itu yang akhirnya beliau memilih berinvestasi masa depannya dalam mencari aktivitas produktif di luar RSMS. “Supaya ada kesibukan di hari tua” jadi alasan sederhana dr. Dharma. Namun kreatifitasnya di luar RSMS, sama sekali tidak menurunkan loyalitas dan kinerja. Beliau tetap bertanggung jawab penuh dalam jabatan fungsionalnya sebagai dokter di patologi klinik di lingkungan RSMS.

Sekali lagi, spirit tentang keluar dari zona nyaman ini lah yang penting yang bisa kita petik dari ragam pengalaman kehidupan dr. Dharma. Memang ada beberapa alasan seseorang sulit untuk keluar dari zona nyamannya. Pertama, bagi mereka yang daya adaptasinya rendah, berpindah tempat atau kerja memang menjadi masalah besar. Pada saat seseorang kadung menikmati posisinya di dalam (kotak) kehidupan yang ia anggap sudah sangat nyaman, cenderung takut menghadapi perubahan. Ia sulit melihat adanya peluang di luar sana untuk menemukan suatu terobosan baru atau pertumbuhan hidupnya. Rasa takut Ini bisa menjadi penghalang individu bertumbuh. Alasan lain ialah, rendahnya daya adaptasi seseorang. Ini berhubungan dengan rendahnya tahan stres serta daya juang individu. Karena mungkin sudah punya pengalaman yang tidak nyaman dengan perubahan, dia enggan berubah. Penyebab lain bisa Karena percaya diri yang rendah. Takut harus berhadapan dengan orang dan lingkungan kerja baru. Takut menghadapi kegagalan, sebab fokusnya adalah pada ketidakmampuan diri.

Pengalaman dari anggota SiSehat bernomor 1508 ini juga bisa menjadi inspirasi lain. Maka dari itu mari sambut tantangan, terima perubahan dalam kehidupan kita. Jangan pernah takut untuk melakukan perubahan. Hidup harus selalu penuh kreasi, jangan sampai monoton itu-itu saja. Bila dr. Dharma mampu tentu semua orang pun mampu, seperti ceritanya dulu saat ujian kedokteran. “Bila saya bisa bisa, yang lain pun tentu pasti bisa”. Namun sekali lagi, segala ihwal prestasi yang beliau dapat adalah hasil dari kerja keras. “Semuanya hanya memerlukan 1% IQ dan 99% usaha” tegasnya kepada tim SiSehat. Artinya kesungguhan, dan ketabahan dalam berproses yang jadi utama. Dalam bahasa gaul para remaja sekarang, kita harus senantiasa selalu ber-move on jangan sampai terlena dengan situasi. Saatnya kita selalu berpikir di luar kotak atau cara berpikir dengan menggunakan perspektif yang baru. Yang dimaksud kotak dalam hal ini adalah perumpamaan pembatasan diri seseorang pada saat melihat suatu permasalahan.

Dalam definisi yang lebih luas, berpikir di luar kotak dideskripsikan sebagai suatu cara pikir baru di luar kebiasaan dari cara berpikir yang sebelumnya, cara berpikir yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Belajar cara berpikir kreatif di luar kemampuan diri dan cara berpikir yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pada intinya, berpikir di luar kotak aman berarti berani untuk berpikir lebih jauh. Tidak terfokus hanya pada apa yang sedang dihadapi dan apa yang biasanya orang pikirkan. Tapi berusaha berfikir lebih jauh dari orang-orang pada umumnya.

Maka jika kita ingin bisa melihat dan berpikir di luar kebiasaan yang ada, perlu keberanian diri untuk keluar dari zona aman. Bagaimana, tertarik?

2 komentar:

  1. Kenapa sekarang zona nyaman malah dihindari

    BalasHapus
  2. Suatu pengalaman yang penuh dengan inspirasi.Kerja keras dan kemauan yang kuat untuk berkembang merupakan salah satu cara menuju sukses.Nice share kawan

    BalasHapus

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template