Home » , » Semangat Juang Sang Pensiunan

Semangat Juang Sang Pensiunan

Memetik inspirasi dari Bapak Sukri
Pensiun bukan berarti berhenti berkarya. Justru masa pensiun ini bisa menjadi momen cemerlang bagi orang-orang yang punya rencana matang. Kisah inspiratif yang patut diparesiasi kali ini bisa kita peroleh dari Bapak Sukri. Ayah dari tiga anak ini, Bulan Mei 2013 lalu pensiun dalam pengabdian sebagai pegawai negeri RSUD Prof. Margono Soekarjo. Di masa pensiunnya ini, beliau berencana untuk beternak lagi: ternak ayam petelor.  Usaha yang sebenarnya pernah digeluti bersama istrinya sejak lama. Saat itu usahanya cukup sukses, sampai memiliki 3000 ekor ayam petelur. Namun Tahun 2002, Tuhan ternyata berkehendak lain. Tahun itu menjadi cobaan bagi Bapak Sukri dan istri. Masih hangat dalam ingatan, saat itu zamannya flu burung menyerang unggas-unggas di Indonesia. Banyak peternak unggas yang mengalami kerugian, tak terkecuali Bapak Sukri. Sekitar 3000an ekor ayam yang dimilikinya semuanya mati. Tapi hebatnya musibah ini tak lekas membuat beliau cepat berputus asa. Memang saat itu vaksin flu burung belum ditemukan, usaha ternaknya terpaksa ditutup. Akhirnya Pak Sukri dan istri banting setir menjadi penjual sembako dan jadi ‘juragan’ minyak. Inilah hebatnya, di tengah kesibukan sebagai pegawai negeri, Pak Sukri masih bisa melakukan distribusi peran bersama sang istri untuk tetap berkarya.

Koperasi SiSehat bangga sosok Pak Sukri pernah menjadi anggota. Pak Sukri termasuk anggota yang loyal dan berekam jejak baik. Beliau pun menjadi saksi hidup perkembangan Koperasi SiSehat dari masa ke masa. Karena sudah 24 tahun beliau menjadi anggota SiSehat saat pertamakali mendaftarkan diri menjadi anggota Tahun 1989 silam, sampai akhirnya Bulan September 2013, beliau secara sukarela memilih keluar jadi anggota dengan alasan ingin lebih berkonsentrasi di usahanya yang tentu akan cukup memakan waktu dan energi. Apalagi ditambah kondisi objektif kendala jarak kediaman sekaligus tempat usahanya di Jatilawang cukup jauh untuk beinteraksi secara langsung dengan Koperasi SiSehat.

Mendapat Manfaat

Di satu kesempatan Pak Sukri bercerita tentang ragam manfaat yang ia peroleh dalam kurun 24 tahun sejarah beliau bersama SiSehat. Dulu saat awal-awal merintis usahanya, beliau mendapat fasilitas pinjaman dari Koperasi yang dijadikan modal. “Alhamdulillah saya mendapat banyak manfaat dari koperasi,” ujarnya kepada crew SiSehat, “Bahkan saya selalu diprioritaskan” akunya lagi. Prioritas tentu merupakan imbas dari catatan baik beliau, apalagi beliau menjadikan kegiatan meminjamnya sebagai media produktivitas. Dalam spirit ini Koperasi SiSehat tentu mendukung.

Selain untuk suplemen tambahan modal, Pak Sukri juga sempat bercerita tahun 90-an beliau pernah membeli rumah dan tanah atas manfaat bantuan fasilitas pinjaman Koperasi. Beliau sangat bersyukur, selalu ada pintu terbuka saat sedang memperjuangkan sesuatu. Begitupula saat banting setir dari beternak menjadi ‘juragan’ minyak dan sembako, beliau kembali mendapatkan kemanfaatan berkoperasi.

Yang tak pernah dilupakan yaitu Tahun 2009 silam. Tahun itu Pak Sukri berencana menunaikan ibadah haji via ONH, namun dalam perjalanannya ada sedikit kendala, dana yang terkumpul ternyata belum mencukupi. Akhirnya beliau memilih SiSehat untuk membantu. Mengingat jejak rekamnya yang baik, SiSehat tentu dengan bangga memberi fasilitas pinjaman bantuan  sebagai tambahan dana. Inilah titik terang ruh berkoperasi. Pak Sukri dapat menemui jalan pembuka menunaikan ibadah haji tak lain, bila dipelajari secara seksama, secara tak langsung tertolong karena ada ratusan anggota lain yang melakukan aktivitas menabung. Begitulah aktivitas simpan-pinjam dalam koperasi tak hanya mekanis, filosofisnya menabung sama dengan menolong. Demikian makna semangat kolektifitas yang bisa kita resapi.

Beternak Lagi
Pasangan serasi: PAk Sukri bersama sang istri

“Selalu ada perempuan hebat di belakang lelaki hebat,” ujar pepatah lama. Pepatah ini relevan dengan biografi Pak Sukri.  Hadir figur Ibu Katiyah, sang istri yang selalu berada di samping selalu membantu sepak terjang Pak Sukri, khususnya di usaha yang rintisnya. Dengan latar belakang pendidikan peternakan, Ibu Katiyah tidak berkeinginan hanya berdiam diri saja, beliau memanfaatkan pengetahuannya untuk membuat usaha bersama suaminya tersebut. Secara perlahan, Pak Sukri pun memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Komunikasi dan perencanaan yang matang jadi cara unik dalam menghangatkan suasana berkeluarga. Dan tentu cara ini menjadi uswatun hasanah bagi anak-anaknya. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Pak Sukri pensiun, rencana untuk beternak lagi sudah dipersiapkan.

Ibu Katiyah bersama Pak Sukri sekarang memilih kembali usaha beternak ayam petelur yang sepuluh tahun lalu ‘gulung tikar’ karena terkena musibah flu burung. Tapi itulah hebatnya pasangan ini. Bukan menyerah justru pengalamannya dijadikan pecutan untuk lebih produktif lagi. Sekarang Pak Sukri sudah memiliki 800 ekor ayam petelur, yang cita-citanya hasil dari usahanya ini untuk biaya anak-anaknya yang masih kuliah. Semoga Sukses!

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template