Home » » Pak Tohir Sang Pembelajar

Pak Tohir Sang Pembelajar

Ada tradisi lucu tentang nasi yang menjadi salah satu makanan pokok di Indonesia. Orang-orang Indonesia, konon makan sebanyak apapun, bila tanpa ditemani nasi, ya belum bisa disebut “makan”. Nah, nasi yang setiap harinya kita makan tentu saja tidak simsalabim muncul begitu saja di hadapan kita. Telusur ke belakang, selalu pasti ada relasi sosial yang berkait erat dengan hadirnya sejarah tahapan dari padi ke beras sampai menjadi nasi yang kita makan. Selalu ada figur atau orang yang berperan dalam ketersebarannya padi-nasi-beras tersebut. Salah satunya peran supplier beras yang lihai mendistribusikan kebutuhan beras sesuai dengan keinginan ‘pasar’. Nah, bila anda pernah menikmati sajian menu di unit-unit kafe SiSehat dan mencicipi nasinya, di balik layar ada peran penting salah seorang anggota SiSehat. Beliau adalah Pak Tohir.

Pak Tohir, yang kesehariannya berdinas di IGD Rumah Sakit Prof. Margono Soekardjo (RSMS) ini merupakan supplier beras bagi SiSehat. Kurang lebih sudah 18 tahun beliau jadi supplier beras. Hal ini menarik, karena dalam titik ini SiSehat sebagai koperasi secara tak langsung memberdayakan anggotanya lewat kerjasama ini.

Pak Tohir menjadi seorang supplier memiliki cerita nuansa perjuangan yang inspiratif. Tahun 1995 beliau pertamakali menginjakan kaki di RSMS sebagai seorang honorer. Sebelum menjadi pegawai di rumah sakit, memang beliau pernah berproses membuat usaha sendiri di bidang perberasan. Tapi dulu masih dalam skala kecil. Saat ditemui tim SiSehat beberapa waktu lalu, beliau mengingat-ingat sejarah perjuangannya. “Dulu saat saya masih (skala) kecil saya sering mengantar beras ke orang-orang (Rumah Sakit) Margono. Walau cuma 10 Kg saya antar ke rumah-rumah.” Ujarnya sambil tersenyum mengingat-ingat pengalamannya itu. Pengalaman di SiSehat pun demikian, sekitar Tahun 1996 beliau mulai menyuplai beras bagi koperasi. ”Awal-awal dulu cuma beli lima pulu kiloan buat koperasi, secara perlahan terus meningkat jadi satu setengah kwintal, sampai mulai tahun 2000-an bisa sampai dua belas kwintal,” cerita lelaki yang menjadi transporter di IGD ini. Jejak rekam beliau yang manis ini menyebar menjadi kepercayaan bagi pihak pelaku usaha kuliner. Siapa sangka beliau kini bisa melayani kebutuhan beras pelaku usaha kuliner sekelas Iga Bakar dan Ayam Penyet yang ada di Jalan GOR Satria, Purwokerto serta café-café kecil yang ada di sekitar Purwokerto.  “Saat mengawali usaha saya tidak pernah menyangka bisa seperti sekarang.” Jelasnya. Begitulah buah perjuangan, selama manusia setia dengan perjuangannya, seperti yang dilakukan Pak Tohir hal-hal yang menarik bisa kita dapatkan kapan saja.

Ada fakta bagus. Kegiatan menjadi supplier Pak Tohir ini pun menjadi titik temu antar anggota.  Sebagai bentuk kerjasama anggota dan koperasi, beberapa supplier SiSehat adalah para anggota. Di antaranya merupakan supplier makanan tradisional. Bila ada anggota/supplier perlu beras sebagai bahan pokok tinggal calling Pak Tohir.  Ini salah satu hikmah yang beliau dapat, “Alhamdulillah bisa menambah saudara,” ucap suami dari Ibu Kaswati ini.

Beras-beras yang Pak Tohir suplai ke berbagai tempat ini adalah hasil panen dari tanah sawahnya seluas dua hektar di Bojong Sari, Purwokerto. Dari sawah yang dimilikinya ini bisa memberdayakan dan berbagi rezeki kepada  para saudara dan tetangganya yang turut membantu Pak Tohir.

Ujarnya bila ada permintaan lebih, beliau sigap untuk kulakan ke Kebumen, Kroya bahkan sampai ke Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau menyisir pematang-pematang sawah di luar kota yang sedang panen, dan tak jarang beliau bertransaksi langsung dengan para petaninya.

Selain aktivitas menjadi supplier ini, sehari-hari beliau bersama sang istri juga membuka warung khusus sembako. Beliau tetap melayani permintaan kebutuhan rumah tangga. Konsumennya tiada lain adalah para tetangga dan kenalan. Lag-lagi bisa menambah ‘saudara’.

Sisi Lain, Tanpa Lelah Mencari Ilmu

Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman hidup Pak Tohir. Adalah semangat hidupnya dalam mencari ilmu. Sejak dini beliau merupakan sosok yang tak kenal lelah untuk meraih pendidikan. Tahun 1984 silam, pasca lulus sekolah dasar beliau tak langsung melanjutkan ke SMP karena faktor ekonomi. Akhirnya Pak Tohir kecil memutuskan untuk bekerja mencari uang. “Saat itu usia saya 13 tahun, saya ngarit di sekitar polres terus juga sambil jualan tempe.” Jelasnya dengan tegas. Begitulah aktivitasnya sehari-hari selama tiga tahun. Iya, tiga tahun. Kurun waktu tiga tahun beliau berhenti melanjutkan pendidikannnya untuk sekedar memenuhi kebutuhan harian keluarga. Namun beruntunglah, niat baik selalu berbuah baik. Melihat sosok Pak Tohir kecil yang rajin bekerja ngarit di dekat polres, akhirnya ada beberapa polisi yang berbaik hati mengajaknya bekerja membantu di Polsek Purwokerto Utara saat itu dan menyekolahkan beliau. SMP 7 Purwokerto saat itu sekolah yang dipilih Pak Tohir, namun selang setahun karena faktor sisi usia, beliau pindah ke SMP PGRI 13 Kembaran. Namun hal itu tak menjadi soal bagi ayah dari tiga anak ini, beliau tetap bersemangat melanjutkan sekolahnya. Setiap pagi hari Pak Tohir bekerja, kemudian sore masuk sekolah. Hal yang luar biasa berlanjut, setelah lulus SMP beliau lanjut pendidikan di SMEA Bhakti Purwokerto yang lagi-lagi dibiayai oleh polisi-polisi nan baik hati. Masa-masa bersekolah ini merupakan memontum Pak Tohir mulau melakukan rintisan berdagang. Ini itu beliau coba, sampai pada akhirnya beliau bertemu dengan dunia  yang membawanya dikenal sebagai tukang beras.

Pak Tohir punya prinsip memikat, baginya ilmu tak harus didapat dari sekolah. Ilmu bisa diperoleh dari mana saja lewat pengalaman. Pengalaman ini pun juga yang membawa Pak Tohir ke jalur  berdagang. Tentang pentingnya pendidikan kerap menjadi nasihat yang disampaikan kepada tiga anaknya. Beliau pun kembali memberi contoh tentang semangat menimba ilmu kepada anak-anaknya. Tahun 2009 beliau memilih kuliah S1 kelas karyawan, tak tanggung-tanggung yang dipilihnya Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman. Namun hebatnya, hal yang mendasari beliau untuk melanjutkan kuliah karena keinginan yang kuat dalam mencari ilmu dan pengalaman bukan untuk mencari gelar atau jabatan tertentu. Karena baginya dengan ilmu bisa merubah pola pikir dengan kesabaran. Sungguh sebuah adigum yang bijak.

Tahun 2012 beliau meraih gelar hukumnya. Ketika ditanya tim SiSehat mengapa memilih Fakultas Hukum, dengan diplomatis beliau menjawab sebagai seorang pedagang harus paham tentang aturan-aturan agar tidak melanggar hak masyarakat dan negara.

Semangat menggebu-gebu sang ayah dalam belajar memicu anak-anaknya untuk berlomba dalam kebaikan. Anak pertamanya bahkan sempat lulus jurusan kedokteran Universitas Jenderal Soedirman melalui ujian SMPTN, namun karena satu lain hal, anaknya kini memilih belajar di Juruan Perawatan Unsoed. Dalam suasana santai tak jarang sang anak sering berceloteh “ayahnya rajin belajar, mengapa kita anaknya tidak,”. Sebuah cerita keluarga yang inspiratif ketika sang ayah bisa memberi tauladan yang baik.

Kiranya bakal banyak tinta untuk menulis ragam inspirasi dari anggota SiSehat bernomor 1782 ini. SiSehat tentu bangga punya anggota seperti Pak Tohir, ada banyak pelajaran dari semangat beliau dalam berusaha. Nah, bila Pak Tohir bisa pasti yang lain pun bisa. []

1 komentar:

  1. Menarik sekali ceritanya. Itu pak Polisi yang menyekolahkan Pak Tohir kalau masih hidup pasti bangga nie punya anak asuh yang sekarang jadi orang sukses. hehe

    BalasHapus

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template