Home » , , » Pak Gun dan Hobinya yang Membawa Berkah

Pak Gun dan Hobinya yang Membawa Berkah

Banyak di antara kita yang mempunyai hobi berkebun dan bercocok tanam di sekitar rumah atau menyukai hal yang berhubungan dengan pertanian. Nah, kali ini SiSehat akan membahas seseorang yang luar biasa dalam mencintai hobinya: berkebun. Sebagian besar keluarga besar RSUD Prof Margono mengenalnya, beliau adalah Pak Gunarto. Pria yang kesehariannya mengabdi menjadi seorang perawat di Ruang Cendana ini benar-benar tekun dan mau terus belajar demi hobinya yang satu ini. Sebelum mengobrol lebih jauh, mari kita kenali dulu sosok yang satu ini.
Pak Gunarto lahir 21 November 1961 silam, dan saat ini bertempat tinggal di Tambaksari RT 08 RW 03. Hobinya bertani ini ternyata sudah dimulai semenjak kecil. Pak Gunarto kecil memang sudah gemar bertani dan berkebun sehari-hari.  Belajar bertani ini, beliau jalani dengan sungguh-sungguh. Dulu Pak Gunarto kecil membantu kedua orang tuanya untuk bekerja, saking padatnya waktu sampai-sampai tidak ada waktu untuk belajar. ”Hampir tidak ada waktu untuk belajar,karena pagi-pagi saya harus bekerja sampai siang lalu melanjutkan sekolah sampai sore,dan setelah sekolah pastilah saya sudah capek,” ujar Pak Gunarto sambil mengingat-mengingat masa lalu yang berharga.

Sosok-sosok yang berhasil bisa dilihat dari masa lalunya. Orang-orang yang pernah belajar prihatin dalam mengarungi kehidupan biasanya akan memetik hasil perjuangannya di waktu mendatang. Pak Gunarto pun demikian. Perjuangan beliau untuk menuntut ilmu di salah satu SMA swasta sangatlah luar biasa. Bayangkan saja hampir setiap hari Pak Gunarto harus mengayuh sepedanya selama 26 KM bolak balik dari rumah ke sekolah, sampai-sampai bila ada agenda sekolah tambahan, pulang sekolah jam enam sore beliau sampai rumah jam delapan malam, begitu seterusnya. Dan pagi-pagi harus mempersiapkan energi untuk kembali membantu orang tuanya bertani.

Ada tradisi klasik di Indonesia, sebagian orang tua dulu mengajarkan kepada sang anak tentang pentingnya bekerja mencari uang daripada belajar. Orang tua dari beliaupun termasuk tipekal yang menganut budaya tersebut. Namun Pak Gunarto tidak berkecil hati, justru itu menjadikannya modal bersemangat juang. Waktu yang padat untuk bekerja di masa muda tidak mengurungkan niat Pak Gunarto untuk tetap terus menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Pria yang gemar sekali akan ilmu biologi sewaktu sekolahnya memang benar-benar perlu diacungi jempol, setelah lulus SMA beliau melanjutkan kuliah di Kampus Karya Husada Semarang jurusan keperawatan. Di jenjang kuliahnya Pak Gunarto selalu mendapatkan IPK yang tertinggi karena kecintaannya di bidang biologi. Seakan meneruskan prestasi semasa sekolahnya yang kerap mendapatkan rangking pertama. Sungguh ketekunan yang luar biasa.


Setelah merampungkan kuliahnya, Pak Gunarto bekerja di RSUD Margono Soekarjo ini. Kurang lebih 25 tahun beliau mengabdikan diri, berawal dari pangabdiannya di Geriatri sebagai pembantu umum kasi perawatan, lalu diangkat menjadi kepala ruangan cukup lama Pak Gunarto menjabat sebagai kepala ruangan, tetapi beliau memilih mundur dari jabatannya. Saat ditanya oleh tim SiSehat, beliau hanya menjawab “Ya itu bukan jiwa saya, menjabat sebagai kepala ruangan pastilah mempunyai tanggungjawab yang amat besar”. Lalu Pak Gunarto dipindah di Ruang Cendana untuk menjadi perawat tetap diruangan tersebut sampai hari ini. Pengalaman cukup menarik dari anggota SiSehat ini.
Hobi yang membawa berkah
Mungkin kita pernah dengar petuah lama, “Lakukanlah sesuatu apa yang kita sukai dan lakukan dengan senang hati maka rasa lelahpun tak akan terasa”. Nah, itu pula yang dilakukan oleh Pak Gunarto, hobi yang dari kecil Pak Gunarto sukai, sekarang beliau wujudkan kembali di sela waktu menjadi perawat. Pak Gunarto mempunyai lahan di Daerah Gandatapa lalu beliau memanfaatkan lahannya untuk usaha di bidang perkebunan. Awalnya hanya menanam cengkeh, lalu secara perlahan memperluas usahanya dengan menanam berbagai jenis tanaman sayur-sayuran, buah-buahan, bahkan tanaman untuk bumbu memasakpun beliau tanam. Untuk operasionalisasi hariannya, Pak Gunarto memilih satu keluarga yang beliau ajak untuk menjadi karyawan di lahan beliau.
Segala keperluan yang dibutuhkan dalam menjalankan usahanya tersebut, Pak Gunarto berupaya keras untuk selalu penuhi, bahkan beliau menyediakan rumah dan kendaraan sebagai fasilitas agar karyawannya bisa dengan mudah menjangkau. Wah, pasti betah kalau menjadi karyawan Pak Gunarto.

Setiap minggu Pak Gunarto pergi ke Gandatapa untuk melihat perkembangan semua yang beliau tanam. Ilmu tentang perkebunan ini semakin’canggih’ setelah beliau bertemu dengan insinyur lulusan dari IPB dan berbagi pengetahuan. Banyak ilmu yang didapatkan, mulai tentang bagaimana manajemen pertanian dan perkebunan sehingga bisa mendapatkan hasil yang bagus, kemudian tentang bagaimana harus mengantisipasi wilayah dan cuaca yang kadang buruk, dan yang paling penting tentang bagaimana mengatasi hama yang selalu mengganggu dan cara untuk mengatasi masalah geografis yang bisa menghambat tumbuhnya hasil dari tanaman. Belajar dan terus belajar, beliau selalu lakukan demi hasil yang terbaik. Kendala dalam kehidupan pastilah ada, dan itu wajar adanya, tapi hal yang penting adalah bagaimana cara untuk menghadapinya. Persis, itulah yang dilakukan Pak Gunarto untuk tetap semangat menjalankan hobi perkebunannya. Dari banyak pelajaran yang ia dapat, salahsatunya yang beliau dapatkan yaitu pengetahuan memberikan obat pemacu pohon untuk menahan pucuknya tumbuh tetapi bisa menghasilkan buah.

Di tengah proses karyanya, banyak faktor eksternal yang menghambat salah satunya mahalnya pupuk. Namun tak habis akal, karena mahalnya itu Pak Gunarto  meng-ide untuk  memelihara kambing guna diambil pupuk kandangnya. Simbiosis mutualisme pun terjadi sampai sekarang. Pernah sih dulu beliau sempat memelihara banyak ayam tetapi naasnya ayam-ayam itu satu persatu dimakan oleh hewan lain.

Soal kambing yang dipelihara oleh Pak Gunarto hanya beliau jual pada saat menjelang lebaran haji. Sering juga para rekan-rekannya di Ruang Cendana diajak ke perkebunan beliau sembari menyembelih kambing dan makan bersama. Hobinya ini ternyata bisa menjadi media silaturahmi bermanfaat.

Tak tanggung-tanggung dari hobinya telah memberikan hasil yang luar bisa, Pak Gunarto sekarang telah mempunyai lebih dari 100 pohon durian lokal dan durian montong, 2000 pohon cokelat, 40 tanaman pala, 100 pohon kelapa yang beliau olah untuk menjadi gula merah tetapi dengan luar biasanya beliau tidak menerima hasil dari gula merah tersebut, beliau dengan ikhlas menyerahkan semua hasil gula merah kepada karyawannya, dan masih banyak lagi pohon lainnya. Untuk pengairan, Pak Gunarto membuat kolam ikan dan bermacam-macam ikan beliau pelihara, semakin sulit medan maka Pak Gunarto membuat saluran air menggunakan pralon sepanjang 3 KM yang beliau ambil dari pucuk Gunung Baturaden.

Orangtua Pak Gunanrto yang mengajarkannya bertani patut berbangga dengan semua usaha dan jerih payah yang Pak Gunarto lakukan. Di luar usaha dan perjuangan tersebut pastilah ada motto hidup yang ia pegang dan selalu membuat beliau semangat untuk melakukan setiap apa yang beliau kerjakan, mottonya cukup filosofis ”Semua makhluk hidup itu sama termasuk tumbuhan, mereka memerlukan perawatan yang sama pula untuk tetap hidup,tumbuhan itu bisa memberikan sesuatu jika kita juga bisa memberikan sesuatu yang berharga pula kepada mereka”. Perjuangan beliau belum berhenti sampai di sini, beliau akan terus menjalankan hobi kesayangannya tersebut. Kisah ini sangat menginspirasi semua orang agar terus semangat melakukan segala sesuatu yang kita sukai secara terampil dan konsisten. Bagaimana dengan anda?



0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template