Home » , , , , » Bagaimana dampak SiSehat setelah UU 17 Tahun 2012?

Bagaimana dampak SiSehat setelah UU 17 Tahun 2012?

Suasana RAT ke 34 SiSehat
Ketua Dekopinda Kabupaten Banyumas, Bapak Drs. Nashar Susanto, menyampaikan salah satu hal penting saat sambutan RAT SiSehat ke 34, yaitu tentang perubahan UU No. 25 Tahun 1992 menjadi UU No. 17 Tahun 2012. Dalam sambutannya, beliau berharap perubahan UU ini bisa memacu SiSehat lebih mengembangkan karyanya. Hal ini pun senada dengan yang disampaikan oleh Kepala DInas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Banyumas, Bapak Joko Wikanto,MM, yang mengharapkan perubahan ini bisa disikapi dengan bijaksana sehingga pemberlakuan UU ini akan lebih memacu koperasi untuk menumbuhkembangkan kemanfataan berkoperasi kepada segenap anggotanya dan masyarakat luas pada umumnya. Oleh karena itu, siSehat diharapkan melakukan kajian komptehensif dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menyelenggarakan organisasi dan usaha koperasi.

Berikut dijelaskan beberapa hasil kajian sementara yang disampaikan di penghujung RAT kemarin, yaitu;
Kelembagaan. dalam UU ini mengatur: 1) Jenis Koperasi hanya ada 4 (empat), yaitu : (i) Koperasi Simpan Pinjam; (ii) Koperasi Konsumen; (iii) Koperasi Produksi dan; (iv) Koperasi Jasa lainnya dan 2) Simpan Pinjam Tidak Bisa Di gabung dengan Non-Simpan Pinjam. Jadi imbasnya SiSehat harus berubah menjadi 2 (dua) Koperasi, yaitu koperasi simpan pinjam (KSP) dan Koperasi Konsumen. Hal ini mengingat bahwa siSehat menyelenggarakan serba usaha, sehingga harus melakukan pilihan diantara 4 (empat) alternatif jenis koperasi yang ada.

Permodalan koperasi. UU ini mengatur a) Modal Internal : Istilah Simpanan Pokok di rubah menjadi Setoran Pokok. Istilah Simpanan Wajib (SW) di rubah menjadi SMK (Setoran Modal Koperasi). Setoran Pokok tidak dikembalikan ke anggota, tetapi SMK Bisa dikembalikan atau di pindahtangankan kepada anggota lainnya. Besarnya nilai SMK per lembar maksimum sama dengan nilai setoran Pokok. Sedangkan jumlah lembar yang diterbitkan sesuai kebutuhan permodalan koperasi. Dan b) Modal lainnya : Dalam memenuhi kebutuhan permodalan, Koperasi juga bisa mengoptimalkan sumber-sumber permodalan dari : Hibah; Modal Penyertaan; modal pinjaman yang berasal dari Anggota, Koperasi lainnya dan/atau Anggotanya; Bank dan lembaga keuangan lainnya; penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya; dan/atau Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan/atau ; sumber lain yang sah yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi Imbas yang perlu disikapi SiSehat yaitu : a) Perlu ada penyesuaian SP dan SW masing-masing anggota menjadi Setoran Pokok (SP) dan SMK (Setoran Modal Koperasi) dan b) Perlu dirancang “satu prototype pengembangan perusahaan Koperasi” dimana didalamnya menggambarkan jumlah kebutuhan modal yang harus tersedia. Hal ini bisa menjadi dasar bagi pemilihan sumber-sumber permodalan yang akan di tetapkan oleh anggota dengan segala implikasi yang timbul dari sebuah pilihan jenis permodalan.

Unsur organisasi. UU ini mengatur: a) Anggota. Keanggotaan Koperasi Bersifat Sukarela dan Terbuka. b) Pengurus harus memiliki jam kerja dan bisa dari non-anggota. Pengurus di pilih oleh anggota setelah sebelumnya di rekomendasikan oleh pengawas untuk di pilih. Pengurus harus memiliki kompetensi yang di standarkan (khusus Kop Simpan pinjam harus memiliki sertifikasi Kompetensi yang dikeluarkan lembaga yang ditunjuk Kemenkop RI. c) Pengawas. Pengawas dipilih dari dan oleh anggota. Khusus untuk KSP, Pengawas harus memiliki sertifikasi kompetensi. Dampak dari adanya aturan tersebut, maka sikap yang bisa dilakukan SiSehat yaitu: a) Anggota. Keanggotaan menjadi lebih terbuka tanpa melihat latar belakang, status sosial, gender, agama, dsb. Anggota berkedudukan setara (equal) dan memiliki hak atau kewajiban yang sama, b) Sehubungan dengan pengurus harus memiliki jam kerja, maka dimungkinkan tabrakan waktu dengan jam kerja kedinasan (bila pengurus berstatus PNS). Namun demikian, tidak masalah bila seorang anggota berstatus PNS berposisi sebagai pengawas koperasi. Dan c) Standar Kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikasi memerlukan persiapan dan hal ini berakibat semakin sedikitnya “calon” pengurus atau pengawas yang bisa di pilih oleh anggota. Namun demikian, dari sisi kualitas pengelolaan atau pengawasan koperasi akan dimungkinkan menjadi lebih baik.

Yang tak kalah penting untuk dianalisa yaitu soal SHU. Dalam UU yang baru mengatur 1) SHU yang bisa dibagikan kepada anggota adalah SHU yang berasal dari transaksi yang dilakukan anggota dan 2) SHU yang berasal bukan dari transaksi anggota hanya diperuntukkan bagi mengembangkan usaha Koperasi dan meningkatkan pelayanan kepada Anggota. Maka dampak terhadap SiSehat yaitu:
a. Unit Layanan Perdjasu (Perdagangan dan Jasa Umum). siSehat harus melakukan Pemisahan transaksi harus dilakukan sehingga terdeteksi transkasi anggota dan transaksi non-anggota. Sebenarnya, unit layanan Toko, Fotokopi, Kantin sudah dilaksanakan sejak pemberlakuan Sistem Poin sebagai dasar pengukuran partisipasi aktif anggota dalam bertransaksi, sehingga lebih mudah dalam memisahkan SHU dari transaksi anggota dan non-anggota.
b. Pada Unit Layanan Simpan Pinjam juga tidak menimbulkan persoalan.
c. Pada Unit Layanan Parkir juga tidak menimbulkan masalah, sebab sistem IT sudah memungkinkan melakukan pemisahan transaksi.
d. Persoalannya adalah justru akan terjadi PENURUNAN DRASTIS dalam hal angka SHU yang akan dibagikan kepada anggota dalam bentuk rupiah. Sebab data lapangan menunjukkan bahwa akumulasi “Transaksi Non-Anggota” seperti pasien rawat jalan dan penunggu pasien rawat inap dan pembesuk pasien jauh lebih besar dibanding dengan TRANSAKSI ANGGOTA, khususnya di unit layanan Toko, Foto Kopi, Kantin dan Parkir.

Namun soal SHU ini muncul hikmah dalam pensikapan karena menghadirkan kembali tinjauan filosopi dalam berkoperasi yang menjunjung tinggi kebersamaan. Adanya perubahan UU ini menjadi momentum melakukan pencarian jawaban atas beberapa tanya berikut ini:
• Posisi Koperasi Dalam Hidup Anggota. Hal ini sebagai dasar untuk membentuk dasar berfikir dalam pemilihan aktivitas-aktivitas yang dijalankan koperasi.
• Menentukan pilihan apakah memilih spirit Corporate oriented yang berujung pada pertumbuhan SHU ataukah Empowering Oriented yang concern pada efisiensi kolektif dan pemberdayaan potensi anggota.

Bagaimana para anggota, siap dengan perubahan? []


0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template