Home » , , , » Pak Hadi, Tukang Bangunan yang Berhasil Menyekolahkan Anak Sampai Menjadi Dokter

Pak Hadi, Tukang Bangunan yang Berhasil Menyekolahkan Anak Sampai Menjadi Dokter

Panas terik yang menyengat tidak membuat seorang pria paruh baya berhenti bekerja, ia terus melanjutkan membersihkan saluran air di Perumahan Griya Shifa Alamanda (GSA), Kemranjen. Keringat bercucur seolah menjadi teman akrab bagi pria ini. Beliau adalah Bapak Hadi, seorang tukang bangunan yang bekerja di proyek Griya Shifa Alamanda. Sesekali beliau menerima pekerjaan sampingan para warga GSA untuk memotong rumput.

Di waktu-waktu senggang, tak jarang crew SiSehat mengajak ngobrol santai dengan para tukang bangunan dari mulai pertamakali GSA berdiri sampai sekarang. Bagaimana pun mereka adalah bagian dari karya kolektif SiSehat. Karya bersama bernama Perumahan Griya Shifa Alamanda ini bisa teraktualisasi atas kreativitas tangan-tangan mereka. Ada jalinan mutualisme antara Koperasi SiSehat dengan teman-teman tukang. Di tengah aktivitasnya, tim SiSehat mengajak Pak Hadi untuk ngobrol bersama. Sebenarnya ada rasa penasaran yang besar yang mengundang tim SiSehat untuk belajar dari bapak ini, yaitu tentang sepak terjangnya menjadi orang tua yang bisa sampai menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran dan sekarang telah mengabdi menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit di Palembang. Tidak main-main, sang anak merupakan alumni kedokteran Universitas Indonesia. Setelah melaksanakan sholat dzuhur  kesempatan ngobrol pun dimulai.

Dari obrolan cair tersebut, tim siSehat secara tak langsung banyak belajar tentang semangat beliau menyekolahkan anaknnya. Pria bernama lengkap Bapak Hadi Nawawi ini memang begitu percaya dan sekuat mungkin menjalankan salah satu tradisi tanah kelahirannya, Yogyakarta. Yaitu jangan sampai membiarkan anak kita sampai sengsara. Maka dari itu, beliau bekerja banting tulang siang dan malam mencari rezeki untuk menjembatani mimpi dan cita-cita anak-anaknya.

Sebelum bekerja proyekan di Perumahan GSA, jauh-jauh hari beliau sudah memiliki pengalaman yang luas di bidang pembangunan. Tahun 1970 ia merantau ke ibu kota dan mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan kontraktor yang cukup ternama. Kota-kota besar di Indonesia pernah disambangi untuk menjalankan tugasnya sebagai orang yang memiliki keahlian di bidang bangunan. Pernah di Medan, Bali, dan kota-kota besar lainya. Kurang lebih beliau bekerja di Jakarta selama 20 tahun lebih. Di ibu kota itulah beliau akhirnya bertemu dengan seorang perempuan asal Bumi Ayu bernama Ibu Waifah yang dipersuntingnya tahun 1975 silam. Dari hasil pernikahannya ia memiliki dua anak, anak pertama bernama Nur Baiti Baitullah dan yang kedua Agus Sunanto.

Ada tekad bulat yang dipegang oleh Bapak Hadi ini, yaitu keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup sang anak. Maka salah satunya ia begitu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Beliau selalu membimbing anak-anaknya untuk rajin belajar. Sambil mengingat-ingat masa saat anak-anaknya masih kecil, ia bercerita setelah anak-anak pulang sekolah beliau biarkan sang anak untuk beristirahat, membersihkan badan, lalu sore dipersilakan sang anak untuk bermain. Baru selepas magrib, selain mengaji, beliau mengajak anaknya untuk belajar. Baru setelah selesai belajar anak-anaknya dipersilakan nonton tv. Tidak hanya itu, sebelum shubuh tiba, Pak Hadi selalu membangunkan anaknya untuk sholat dan kemudian mengajaknya untuk belajar, merefresh mata pelajaran apa yang akan dipelajari pagi harinya di sekolah. Pola asuh seperti ini membuat anak-anaknya memiliki disiplin yang bagus. Tak heran sang anak terus memiliki prestai di sekolahnya. Sampai pada situasi yang menetukan, saat anak pertamanya lulus SMA. Sang anak punya cita-cita melanjutkan jenjang pendidikannya ke kedokteran. Pak Hadi memahami potensi anaknya, maka beliau berjuang sampai penghabisan untuk mewujudkan cita-cita sang anak.. Saat itu biaya yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke kedokteran sebesar 350 juta rupiah. Angka yang sangat besar pada awal-awal millennium, bahkan sampai hari ini angka tersebut .

Ada niat baik selalu ada jalan. Ketika logika matematika tidak bisa menjawab, maka biarkan neraca Tuhan yang menjawab. Akhirnya mertua Pak Hadi, atau nenek dari Nur Baiti ikut berpartisipasi membantu pembiayaan anaknya. Sedangkan Pak Hadi terus menerus bekerja dan menjual investasi tanahnya yang ada di Yogya. Akhirnya sang anak bisa melanjutkan kuliah di Kedokteran Universitas Indonesia. Perjuangan tidak selesai di sana, setelah anaknya mulai berkuliah ia terus membiayai kehidupan dan kuliah anaknya. Perjuangan pun semakin luar biasa, karena Tahun 2005 silam sang istri tercinta meninggal dunia. Akhirnya beliau harus bekerja sendiri.

Ada dua pesan yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya. Yaitu untuk selalu jujur dan mawas diri. “Saya selalu mengingatkan anak-anak untuk mawas diri, kondisi sosial kita seperti apa,” ujarnya kepada tim SiSehat. Bagi Pak Hadi jujur adalah sesuatu yang mahal harganya. Dengan bersikap jujur beliau percaya, orang-orang di sekitar akan siap membantu.

Perjuangan Pak Hadi memang benar-benar diberikan sepenuhnya kepada anak-anaknya. Anak keduanya, pun bisa melanjutkan ke perguruan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman. Tapi sayang, Tuhan memanggil terlebih dahulu anak kedua dari Bapak Hadi ini. Dengan mata sedikit menangis, beliau menegaskan keikhlasannya atas kepergian anak keduanya itu.

Di Usia Senja Tidak Mengandalkan Anak

Anaknya telah sukses menjadi seorang dokter.  Tapi tak ada sedikitpun keinginan dari beliau untuk hidup mengandalkan dari anaknya. Di usianya yang sudah cukup tua, pria kelahiran 5 Mei 1953 ini sekarang malah memilih menjadi seorang tukang di GSA ini. Pak Hadi memang punya tekad selama ia masih bisa mamapu bekerja, ia tidak menginginkan hasil keringat anaknya. Biarkan sang anak menikmati apa yang didapatkannya. Namun memang ia memberi pesan kepada anaknya. Awal Tahun 2011 lalu, Pak Hadi memutuskan untuk menikah kembali dan telah dikaruniai seorang anak yang kini berumur 2,5 tahun. Kepada sang anak pertamanya beliau membimbing untuk tetap ingat kepada adiknya dan kelak bisa membantu mewujudkan mimpi dan masa depan adiknya tersebut.

Pengalaman dari Bapak Hadi ini bisa menjadi pelajaran bagi para orang tua ataupun calon-calon orang tua. Semoga denga cerita ini bisa menjadi hikmah, bahwa perjuangan dan tekad kuat yang disertai doa akan selalu melapangkan jalan bagi hamba-hamba yang mencari kemanfaatan. Ditambah dengan semangat Bulan Suci ini, mari kita untuk saling mengajak antar sesama untuk saling memberikan manfaat dan berbuat kebaikan tanpa perlu mengingat-ingat kebaikan tersebut kepada siapa saja, orang-orang di sekitar kita, baik keluarga atau tetangga. Akhirulkalam, siSehat mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa Bulan Ramadhan 1435 Hijirah.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template