Home » , , , , , » ZERO INVENTORI, BISNIS DENGAN MODAL NOL RUPIAH

ZERO INVENTORI, BISNIS DENGAN MODAL NOL RUPIAH

Tidak semua orang bisa menjalankan usaha sampingan atau dalam bahasa kerennya “bisnis”. Bagi yang mempunyai kesempatan dan modal terkadang merasa bingung, takut mengambil resiko, tidak mempunyai ide atau bahkan tidak merasa nyaman untuk memulai hal baru. Disisi lain sebagian lagi dengan segala keterbatasan mengambil resiko bisnis atau usaha sampingan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas hidup, menyukai tantangan baru atau sekedar menambah pengalaman .
Hal yang sama terjadi pada bapak Cahyono Amir, yang kesehariannya bekerja sebagai karyawan di RSMS Purwokerto. Sebenarnya dari awal tidak terbayang untuk menjalankan usaha sampingan seperti sekarang. Ide tersebut muncul sewaktu mereka menikah. Status sebagai karyawan honorer di Rumah sakit Margono ditambah situasi ekonomi yang sulit serta kebutuhan hidup yang terus meningkat menyadarkan beliau bahwa tidak akan cukup jika hanya mengandalkan gaji semata. Dengan situasi yang “kepepet” saat itu beliau memutar otak, saat itu tidak ada pilihan lain bagi beliau selain mengupayakan apapun sebagai tambahan penghasilan.
Kalau boleh memilih suami dari Ibu Rina Yuni W tersebut lebih menyukai hal yang berbau teknik elektronik dan kelistrikan. Namun beliau tidak egois untuk memaksakan usaha sampingan di bidang yang digemarinya, apalagi secara realistis berbisnis di bidang tersebut sangat kecil kemungkinannya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, dengan banyaknya relasi yang dimiliki akhirnya Bp. Amir dan istri menemukan celah kreatif yang lebih prospektif.
Tingginya tingkat kebutuhan atas pembelian barang tertentu sementara  di sisi lain mereka tidak mempunyai waktu untuk membeli sendiri ditangkap sebagai sebuah peluang bisnis. Akhirnya dirintislah bisnis Zero Inventory, bisnis yang dilakukan tanpa modal rupiah. Prinsip bisnis ini adalah mencari pelanggan atau teman  yang sedang membutuhkan barang tertentu. setelah terjadi kesepakatan P Amir memfasilitasi dengan cara membelikan barang tersebut terlebih dahulu, pembayaran dilakukan dengan sistem kredit dalam jangka tertentu sesuai kesepakatan.
Awalnya segmen bisnis hanya terbatas teman teman dekat sebagai pelanggannya dengan kebutuhan barang yang secara nominal terbilang kecil. Bisnis yang hanya bermodalkan kepercayaan dibarengi dengan pelayanan yang baik dan memuaskan akhirnya membuahkan hasil. Informasi bisnis berkembang dari mulut ke mulut dan akhirnya pelanggan semakin banyak yang berimbas semakin tingginya order permintaan barang.
Sampai akhirnya bapak dua orang putra ini mulai memikirkan untuk memiliki tempat yang berfungsi sebagai gudang maupun display barang. Setelah berkonsultasi dengan istri akhirnya Bp Amir memberanikan diri meminjam modal kepada bank dan koperasi. Modal tersebut dibelikan asset berupa tanah, yang secara bertahap dilakukan pembangunan. Dalam kurun waktu kurang lebih 5 tahun bangunan memasuki tahap finishing,  bangunan yang masih kosong dimanfaatkan untuk menyimpan stok barang-barang pesanan para pelanggan.
Jika awanya bangunan difungsikan hanya sebagai gudang penyimpanan, lambat laun beliau berfikir untuk mengembangkan space kosong yang masih ada menjadi sebuah toko. Bekerja sama dengan beberapa toko mebel akhirnya disepakati untuk mengembangkan bisnis mebel. Prinsipnya sisa ruang di gudang p Amir dimanfaatkan sebagai penitipan produk mebelnya. Bermodalkan kepercayan dan kegigihan bpk amir,  lambat laun sistem kini bisnis mebelnya semakin berkembang, bahkan sekarang sudah memiliki 2 karyawan untuk standby di toko mebelnya.
Tidak hanya itu, hobi istri yang suka berbelanja fashion pun tak luput dari ide kreatifnya. Beberapa fashion milik istri yang hanya sekali pakai dan masih bagus-bagus ikut dipajang di toko,dan ternyata laku. Akhirnya bpk amir meminta istri untuk berbelanja fashion lebih banyak lagi untuk didisplay di tokonya dan tidak di sangka barang laris manis, apalagi saat itu bertepatan dengan moment lebaran.
Belajar dari pengalaman bahwa dalam bisnis adakalanya penjualan tinggi dan sesekali turun bahkan kadang tidak terjual, sang istri berinisiatif untuk menambah varian toko dengan  sembako dengan. Dalam perkembangannya toko berkembang jadi minimarket, berawal dari sistem transaksi yang manual sekarang sudah komputerisasi.  Untuk memudahkan managerial,  Ibu rina bertanggung jawab atas toko sembako, sedangkan  “UD Merdeka” ditangani oleh bpk amir dengan 2 karyawan yang menjaga kedua unit usahanya.
Dari seorang karyawan biasa yang tidak suka berbisnis, sekarang beliau mulai menikmatinya. Bahkan seiring dengan ketekunan dan udaha tak kenal menyerah, usahanya berkembang semakin bagus. bahkan rencananya toko yang terletak di daerah Notog RT 01/02 Patikraja  dalam waktu dekat akan menjadi dikembangkan menjadi 2 lantai, lantai 1 untuk minimarket dan lantai2 untuk toko mabel. Walaupun sudah tergolong sukses bapak dari Januar dan khasyi Abi ini masih terus berusaha untuk mengembangkan potensi bisnisnya dengan terus belajar dan belajar.

Sepenggal kisah bapak Cahyono Amir semoga menjadi inspirasi kita semua, bahwa di dunia ini Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mempunyai niat, berusaha dan tetap berdoa...Insya Alloh 

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template