Home » , , , , , , , , , » Dari Pajero Lokal sampai Gethek Ceria : Sebuah Catatan Perjalanan Tour DWP ke Yogyakarta

Dari Pajero Lokal sampai Gethek Ceria : Sebuah Catatan Perjalanan Tour DWP ke Yogyakarta

Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 02.00 lingkungan RSMS yang biasanya masih senyap mendadak ramai. Ibu2 berpakaian merah dengan wajah ceria penuh kegembiraan itu adalah para anggota DWP (Darma Wanita Persatuan) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Mereka sedang akan menggelar tour ke beberapa obek wisata yang ada di wilayah Propinsi Yogyakarta. Beberapa personil manajemen siSehat juga terlihat dalam keramaian di pagi buta itu.
Setelah semua nama-nama dalam list pemberangkatan dipastikan sudah komplit, satu persatu peserta memasuki bus. Setelah  
 melakukan doa bersama yang dipimpin oleh ibu Rodiyah Tarqib rombongan pun mulai beranjak meninggalkan area RSMS sekitar pukul 03.00 WIB. Perjalanan dihentikan sementara saat bus memasuki daerah Gombong untuk menunaikan sholat subuh yang sudah tiba waktunya.

Beberapa menit setelah perjalanan dilanjutkan kembali, panitia kecil terlihat menyambangi satu persatu tempat duduk peserta guna membagikan snack dan sarapan. Setiap orang asik menikmati kelezatan hidangan pagi sambil menikmati suasana di perjalanan. Sepertinya sarapan pagi efektif menjadi pemantik energi dan sekaligus penambah keceriaan perjalanan. Hal ini terlihat dari keikhlasan beberapa peserta menyumbangkan suara emasnya lewat perangkat karaoke yang tersedia dalam bus. “Ini bukan tentang kualitas suara, yang jelas hanya beda tipis dengan penyanyi aslinya, tetapi keikhlasan dan keberanian bernyanyi terbukti ampuh menambah asyiknya suasana” celetuk salah satu peserta yang sadar diri tidak memiliki bakat cukup dan keberanian untuk berdendang.
Pukul 09.00 lebih rombongan tiba di target lokasi pertama, Goa Rancang Kencono. Dalam kisahnya  goa konon dulu dipergunakan untuk menata strategi dari para pejuang. Uniknya lagi didalamnya tumbuh sebuah pohon yang diperkirakan berusia 300 tahun lebih. Usia pohon yang pasti melebihi usia peserta rombongan yang paling senior sekalipun.
Ada hal yang sangat berkesan saat rombongan  memasuki obyek wisata kedua. Rutenya tidak memungkinkan dilalui bus sehingga harus menggunakan shuttle yang sudah di standby-kan sang tour leader. Sebuah truk bak dan mobil bak terbuka menyambut ramah seluruh rombongan. Pemandangan ini menjadi sedikit mengasyikkan, sebab berbeda dengan keseharian peserta rombongan yang sebagian besar terbiasa dengan mobil nyaman. Pajero (panas njaba njero ; panas luar dalam) adalah istilah yang tepat untuk untuk menggambarkan keramahan truk dan mobil terbuka ini. Apalagi kondisi semacam ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar peserta. Hebatnya lagi, saat perjalanan mulai dilanjutkan, semua terlihat enjoy, sumringah, penuh canda tawa dan bisa menikmati mobil pajero ala penduduk lokal tersebut hingga mencapai obyek wisata bernama Srigethuk. Destinasi wisata ini dilengkapi dengan air terjun dan pemandangan alam yang cantik nan natural.


Untuk sampai kesana peserta pun harus menggunakan “perahu lokal” yang disebut gethek, sebuah karya kreatif penduduk terbuat dari rangkaian tong plastik, dikombinasikan dengan kayu dan penggerak menggunakan mesin diesel.
Hmmm...aksi selfie melengkapi kegembiraan di titik ini. Semua meng-abadikan momentum indah ini. Segarnya es kelapa muda disertai gorengan di salah satu warung penduduk, menjadi pelengkap kepuasan berkunjung ke obyek yang satu ini.
Ba’da  dhuhur peserta kemudian dimanjakan dengan aneka ragam kerajinan dari kulit di Desa Wisata Manding, sebuah sentra kerajinan kulit, handmade buatan pengrajin lokal. Ragam pilihan tersedia dan sepertinya pelayan sukses membangkitkan naluri kewanitaan para ibu-ibu untuk berbelanja. Satu per satu pun terlihat menggondol oleh-oleh yang memang sudah terkenal sampai ke mancanegara.
Menikmati indahnya sunset di Candi Ratu Boko menjadi obyek wisata terakhir yang dikunjungi.
Energi peserta sepertinya tak kunjung surut. Berjenis kaum hawa tak membuat para ibu tempak lelah dan bahkan begitu gembira walau lokasi wisata terletak di atas bukit. Setapak demi setapak jalanan menanjak dilalui dengan mudah Entah apa yang terjadi, mereka sama sekali tidak memperlihatkan sebagaimana orang-orang diusia 40-60 tahun pada umumnya. Kegembiraan dan suasana kebathinan yang ceria membuat kata capek terlupakan untuk sesaat.
Menikmati makan malam di Rumah Makan Bukit Indah adalah agenda terakhir sebelum kembali menuju ke kota Mendoan. Sebagian peserta pun menyempatkan diri membeli oleh-oleh di toko Ibu Vera yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah makan. Aksi borong oleh oleh ini menjadi pelengkap deretan cetak memori perjalanan sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Purwokerto. Alhamdulillah sekitar jam 00.00  rombongan sampai di RSMS. Ucapan alhamdulillah terdengar dan senyum bahagia terlihat di semua peserta.
Sebuah perjalanan penuh kesan, sangat menyenangkan dan pasti sulit terlupakan. Toru kali ini diharapkan bisa menjadi semacam pengobat lelah setelah DWP RSMS menggelar ragam program yang menguras energi, fikiran dan waktu di sepanjang tahun 2016. Semoga perjalanan ini akan lebih merekatkan hubungan antara segenap anggota DWP RSMS dan pada akhirnya berdampak kian banyaknya karya yang meng-inspirasi hikmah dan makna lebih baik bagi sesama anggota DWP maupun RSMS dan masyarakat pada umumnya.

Amin ya Robbal ‘Alamin

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Testimoni

Salut dengan artikel-artkel yang dimuat dalam kolom SiSehat, benar-benar dapat memberikan inspirasi, motvasi dan semangat bagi gerakan koperasi yang seringkali bernada minir. (Djabaruddin Djohan - Pemikir Koperasi Indonesia)

Kunjungan Internasional

 
Support : Copyright © 2013. SiSehat - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template